PANGALENGAN, TandaGlobalNews Purbawindu merupakan salah satu nama yang tercatat dalam jaringan pabrik teh PTPN di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Keberadaannya menjadi bagian dari perkembangan industri teh dataran tinggi Jawa Barat yang berlangsung sejak masa kolonial hingga era perusahaan perkebunan negara.

Pangalengan mulai mengalami perkembangan besar setelah pemerintah kolonial menerapkan Agrarische Wet 1870. Modal swasta Belanda masuk dan membuka sejumlah perkebunan di lereng-lereng pegunungan. Sejarah Desa Pangalengan menyebut Pasirmalang, Malabar, Kertamanah dan sejumlah perkebunan lain sebagai bagian dari perkembangan tersebut.

Dalam perkembangan PTPN, Purbawindu menjadi salah satu unit pabrik teh di kawasan Pangalengan. Katalog teh PTPN Group mencatat Purbawindu sebagai pabrik teh Orthodox, bersama Kertamanah, Malabar, Pasirmalang, Santosa, Taloon dan Sedep.

Artinya, Purbawindu memiliki posisi dalam jaringan produksi teh hitam yang menggunakan metode Orthodox. Sistem tersebut merupakan salah satu metode pengolahan teh yang telah lama digunakan di perkebunan teh Jawa Barat.

Dalam prosesnya, pucuk teh segar dari kebun dikirim ke pabrik untuk menjalani pelayuan. Setelah kadar air berkurang, daun digulung, kemudian mengalami oksidasi sebelum dikeringkan. Produk selanjutnya disortasi berdasarkan ukuran dan mutu.

Sejarah Purbawindu juga harus ditempatkan dalam konteks perubahan besar perusahaan perkebunan Jawa Barat setelah kemerdekaan. Nasionalisasi perkebunan asing pada akhir 1950-an mengubah kepemilikan perkebunan dari perusahaan swasta menjadi aset yang dikelola negara.

Selanjutnya, berbagai reorganisasi PPN dan PTP dilakukan pemerintah untuk menata perusahaan perkebunan. Dalam perkembangannya, unit-unit perkebunan teh Pangalengan masuk ke lingkungan PTPN VIII.

Katalog PTPN Group kemudian mencatat Purbawindu sebagai bagian dari kelompok pabrik teh Pangalengan bersama Kertamanah, Malabar, Pasirmalang, Santosa, Taloon, Sedep dan Arumsari.

Letak Purbawindu juga memperlihatkan eratnya hubungan antarkawasan perkebunan Pangalengan dan Kertasari. Jaringan jalan perkebunan menghubungkan berbagai pabrik dan afdeling, sehingga pengangkutan pucuk teh dari kebun ke pabrik menjadi bagian penting dari sistem produksi.

Perkembangan terbaru industri perkebunan teh Pangalengan berada dalam struktur PTPN I Regional 2. Perusahaan tersebut pada 2025 menyebut kawasan selatan Bandung, termasuk Pangalengan dan Ciwidey, sebagai salah satu pusat yang didorong kembali untuk meningkatkan kinerja bisnis teh.

Tidak semua dokumen publik yang dapat diakses memberikan tanggal pasti pendirian Pabrik Teh Purbawindu. Karena itu, tahun pendirian tertentu tidak seharusnya dicantumkan tanpa dokumen primer yang mendukung.

Namun, keberadaan Purbawindu sebagai pabrik teh PTPN dan pengguna metode Orthodox terdokumentasi dengan baik. Sejarahnya menunjukkan kesinambungan sistem perkebunan dari masa kolonial, nasionalisasi hingga perusahaan perkebunan negara modern.

Purbawindu dengan demikian merupakan bagian dari mozaik sejarah industri teh Pangalengan. Walaupun namanya tidak selalu setenar Malabar, keberadaannya tetap penting dalam sistem produksi teh Jawa Barat yang membentang dari kebun hingga pabrik.