KEDIRI, Tandaglobal.news — Di usia Indonesia yang memasuki 81 tahun, kenangan tentang perjalanan panjang menjaga bangsa masih melekat dalam ingatan Suwadi. Veteran TNI Angkatan Darat itu pernah menjalani berbagai penugasan, termasuk ke Timor Timur hingga misi ke kawasan Timur Tengah.
Suwadi ditemui seusai mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Stadion Canda Bhirawa, Pare, Kabupaten Kediri, Senin (17/8/2026).
Perjalanan pengabdiannya di dunia militer dimulai setelah menempuh pendidikan pada 1970.
Setahun kemudian, ia mulai berdinas di Jakarta dan bertugas di sana hingga memasuki masa pensiun.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mendapat penugasan ke Timur Tengah pada 1978-1979.
Saat itu, Suwadi turut menjalankan tugas berkaitan dengan situasi konflik Mesir-Israel pada periode perjanjian Camp David.
“Timur Tengah itu 1978-1979. Setelah itu kita pulang kembali ke satuan, tetap kembali ke kesatuan semula,” kenangnya.
Beberapa tahun kemudian, pada 1982, Suwadi kembali mendapat penugasan ke Timor Timur.
Saat itu kondisi keamanan di wilayah tersebut masih belum sepenuhnya kondusif.
“Timor Timur 1982. Sudah agak reda, tapi masih banyak yang meninggal juga,” ujarnya.
Bagi Suwadi, menjadi prajurit bukan hanya tentang menjalankan perintah dan menghadapi penugasan.
Ia juga mendapatkan pengalaman bersentuhan langsung dengan masyarakat di berbagai daerah.
“Semua tugas kan kita pernah juga ke daerah, ke Kendari pernah juga. Jadi ya biasa bermasyarakat dengan orang-orang yang masih banyak ketinggalan di sana,” tuturnya.
Puluhan tahun berlalu, Suwadi kini merasakan perubahan besar dalam kehidupan prajurit.
Menurutnya, kondisi kesejahteraan anggota TNI saat ini jauh berbeda dibanding ketika dirinya masih aktif berdinas.
Ia mengaku, pada masa awal pengabdiannya, gaji yang diterima sangat terbatas.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus mengatur pengeluaran sebaik mungkin.
“Jauh beda sekali. Kita gajinya waktu itu kecil sekali. Pokoknya cukup untuk dimakan, alhamdulillah. Caranya bagaimana supaya sampai,” katanya.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyesali perjalanan pengabdian yang telah dijalani.
Ia bersyukur dapat menyelesaikan masa dinas hingga pensiun dan kini menikmati kehidupan bersama keluarga di kampung halaman, Kediri.
Suwadi juga menyimpan harapan terhadap perhatian pemerintah kepada para veteran.
Ia menilai masih ada perbedaan kesejahteraan antara veteran berdasarkan jenis penugasan yang pernah dijalani.
Menurutnya, veteran yang pernah bertugas dalam operasi tertentu di Timor Timur memperoleh sejumlah penghargaan dan tunjangan, sementara veteran yang menjalankan misi perdamaian tidak mendapatkan tunjangan serupa.
“Kalau bisa ya harusnya disamakan, dikasih kesejahteraan, tunjangan yang lebih baik,” harapnya.
Bagi Suwadi, perhatian terhadap veteran bukan semata persoalan materi.
Menurutnya, para veteran memiliki sejarah pengabdian yang patut dihargai dan dikenang oleh generasi penerus.
Kini, setelah melewati perjalanan panjang sebagai prajurit, Suwadi memilih menitipkan pesan sederhana kepada generasi muda Indonesia.
Pesan itu lahir dari pengalaman puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai seorang prajurit.
Ia meminta anak-anak muda tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar dan membangun karakter yang baik.
“Untuk anak Indonesia haruslah belajar yang benar-benar belajar. Lurus, satu, yang jujur itu. Di manapun tempatnya, kerjanya harus jujur. Insyaallah selamat dunia dan akhirat,” pesannya.
Bagi Suwadi, pesan tersebut mungkin terdengar sederhana.
Namun, setelah puluhan tahun menyaksikan berbagai perubahan negeri dan menjalani penugasan di sejumlah wilayah, kejujuran menjadi nilai yang tetap ia yakini sebagai bekal penting bagi generasi penerus bangsa.



















Tinggalkan Balasan