
KEDIRI, Tandaglobal.news — Perkebunan Damarwulan di Dusun Laharpang, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, direncanakan kembali dikembangkan sebagai kawasan perkebunan kopi pada 2027. Pengembangan tersebut ditargetkan memperluas lahan kopi dari sekitar 50 hektare saat ini menjadi 250 hektare, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Agus Widodo, yang akrab disapa Dewo, selaku Ketua RT sekaligus komandan keamanan Perkebunan Damarwulan, mengatakan kawasan tersebut dahulu memiliki lebih dari 150 hektare lahan kopi. Namun, seiring waktu, luas lahan yang aktif ditanami kopi menyusut dan sebagian kawasan kini ditanami berbagai jenis kayu, seperti jabon, sengon, dan balsa.
“Rencananya tahun 2027 kawasan ini akan dikembalikan lagi untuk tanaman kopi,” ujar Dewo saat ditemui di Perkebunan Damarwulan, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, pengembangan kembali perkebunan kopi diharapkan dapat mengoptimalkan lahan kosong yang masih tersedia. Selain mengembalikan potensi perkebunan, rencana tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.
Dewo menilai Damarwulan memiliki potensi kopi yang baik karena kondisi ketinggian wilayah pegunungan mendukung pertumbuhan tanaman. Ia menyebut kopi dari kawasan tersebut memiliki karakter rasa yang berbeda dibandingkan kopi yang ditanam di dataran lebih rendah.
“Potensi kopi di sini bagus karena kondisi wilayahnya mendukung. Cita rasanya juga memiliki ciri khas tersendiri,” jelasnya.
Salah satu keunggulan yang disoroti adalah cara petani memanen buah kopi. Petani di Damarwulan memilih buah yang benar-benar matang dan berwarna merah, bukan memetik seluruh buah dengan tingkat kematangan berbeda secara bersamaan.
Pemetikan selektif tersebut membuat masa panen berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan. Sementara itu, di sejumlah wilayah dataran rendah, panen biasanya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan. Cara ini diharapkan dapat membantu menjaga kualitas buah kopi yang dipanen.
Meski memiliki potensi tersebut, proses pengolahan kopi di Damarwulan masih terbatas. Setelah dipetik, hasil panen dikumpulkan dan dikirim ke Desa Satak untuk menjalani proses penggilingan lebih lanjut.
Dari sisi pembibitan, perkebunan kopi Damarwulan memanfaatkan biji kopi yang tumbuh secara alami di sekitar kawasan. Bibit tersebut dipindahkan ke dalam polybag hingga mencapai ukuran tertentu, kemudian dilakukan penyambungan menggunakan tunas dari tanaman kopi yang sudah berbuah.
Menurut Dewo, teknik sambung tersebut dapat membantu mempercepat masa tanaman mulai berbuah, yakni sekitar dua setengah hingga tiga tahun, bergantung pada kondisi tanaman dan perawatannya.
“Bibitnya bisa diambil dari tanaman yang tumbuh alami, kemudian dikembangkan sendiri,” ungkapnya.
Pengembangan kebun kopi juga dinilai memiliki manfaat dari sisi penyerapan tenaga kerja. Kegiatan perkebunan tidak hanya membutuhkan pekerja saat penanaman, tetapi juga selama perawatan, pemeliharaan, hingga masa panen.
Selama ini, kegiatan pemetikan kopi melibatkan tenaga kerja dari sejumlah wilayah sekitar, seperti Sukomoro, Puncu, dan Laharpang. Kebutuhan pekerja terkadang tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh warga setempat sehingga petani turut melibatkan tenaga kerja dari luar kawasan.
Dewo berharap perluasan kebun kopi dapat memberikan kesempatan kerja yang lebih luas, termasuk bagi pasangan suami istri yang dapat bekerja bersama di perkebunan.
“Kalau kebun kopi berkembang lagi, harapannya semakin banyak masyarakat yang bisa bekerja,” katanya.
Ia menjelaskan, perkebunan kopi dinilai mampu menyediakan pekerjaan secara lebih berkelanjutan dibandingkan tanaman kayu. Tanaman kayu umumnya membutuhkan tenaga kerja lebih banyak ketika pembibitan dan penanaman, sedangkan kebun kopi memerlukan kegiatan rutin mulai dari perawatan hingga pemetikan hasil.
Saat ini, lahan kopi yang masih aktif ditanami diperkirakan sekitar 50 hektare. Melalui rencana pengembangan pada 2027, luas perkebunan ditargetkan meningkat hingga sekitar 250 hektare dengan memanfaatkan lahan kosong yang berpotensi ditanami kembali.
Dewo berharap rencana tersebut dapat ditindaklanjuti melalui persiapan lahan, penyediaan bibit, serta pengelolaan perkebunan yang terencana agar pengembangan dapat berjalan optimal.
Menurutnya, pengembalian kawasan menjadi perkebunan kopi bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga upaya menghidupkan kembali potensi ekonomi masyarakat di sekitar Damarwulan.
Dengan dukungan kondisi alam, pengalaman petani, dan kebutuhan tenaga kerja selama siklus perkebunan, pengembangan kopi Damarwulan diharapkan dapat menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan perekonomian warga di Kecamatan Puncu dan sekitarnya.



















Tinggalkan Balasan