Mengingat faktor usia, Tumidi telah menyerahkan tugas tersebut kepada anak bungsunya, Nila.
Keputusan itu diambil karena Nila merupakan anggota keluarga yang tinggal paling dekat dengan lokasi candi sehingga dinilai paling memungkinkan untuk melanjutkan tanggung jawab sebagai juru pelihara.
“Nila yang kami pilih karena tinggal paling dekat dengan Candi Dorok. Sementara anggota keluarga yang lain tempat tinggalnya sudah cukup jauh.”
Menurut Tumidi, regenerasi menjadi langkah penting agar kegiatan perawatan, pengawasan, dan pelestarian Candi Dorok dapat terus berjalan.
Dengan adanya penerus yang melanjutkan tugas tersebut, keberadaan situs cagar budaya diharapkan tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah berbagai cerita yang kerap berkembang di sekitar situs-situs bersejarah, Tumidi mengaku tidak mengetahui adanya mitos khusus yang berkaitan dengan Candi Dorok.
“Kalau soal mitos, saya sendiri kurang tahu. Selama menjadi juru pelihara, saya belum pernah mendengar cerita khusus yang berkaitan dengan Candi Dorok.”
Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, dukungan masyarakat, serta adanya regenerasi juru pelihara, Candi Dorok di Kabupaten Kediri diharapkan tetap terpelihara sebagai warisan budaya sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah yang mampu memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya daerah kepada masyarakat luas, baik dari dalam maupun luar negeri.




















Tinggalkan Balasan