Salah satu penyebabnya diperkirakan karena banyak keluarga sedang mempersiapkan kebutuhan tahun ajaran baru.

“Bulan ini pengunjung memang agak berkurang, kemungkinan karena banyak keluarga yang sedang fokus kebutuhan masuk sekolah,” ujarnya.

Meski demikian, Sumber Jiput tetap menjadi pilihan wisata yang ramah di kantong. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk dan hanya membayar biaya parkir serta tiket untuk wahana yang ingin dicoba.

Wahana bebek goes dikenakan tarif Rp10.000 dengan durasi permainan sekitar 15 hingga 20 menit. Sementara itu, wahana flying fox juga dipatok Rp10.000 untuk dua kali permainan.

Selain menghadirkan berbagai wahana rekreasi, pengelola juga terus menjaga kelestarian kawasan.

Pembersihan dilakukan setiap hari, termasuk mengangkat daun-daun yang jatuh ke kolam agar kualitas air tetap terjaga.

“Setiap hari kami membersihkan area, terutama daun-daun yang masuk ke sumber air supaya tetap bersih dan nyaman untuk pengunjung,” kata Erwin.

Ke depan, pengelola telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan kawasan. Program tersebut meliputi pembangunan kolam pemandian, penataan area hutan kota, hingga penambahan fasilitas outbound.

Pengembangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung. Namun, realisasinya masih terkendala keterbatasan anggaran sehingga akan dilakukan secara bertahap.

“Harapannya fasilitas di sini bisa terus bertambah sehingga masyarakat semakin tertarik datang dan Sumber Jiput tetap menjadi wisata andalan di Kota Kediri,” pungkasnya.

Dengan sejarah panjang sebagai sumber kehidupan masyarakat serta upaya pelestarian yang terus dilakukan, Sumber Jiput diharapkan tetap menjadi salah satu ikon wisata alam sekaligus kawasan konservasi air yang membanggakan Kota Kediri.