
(Dok. Tandaglobal.news/Fitri Rahayu)
Tandaglobal.news | Kediri — Perkembangan teknologi dan perubahan pola belanja masyarakat terus membawa dampak bagi kehidupan pasar tradisional. Di tengah gempuran era digital, para pedagang harus beradaptasi dengan berbagai tantangan baru demi mempertahankan usahanya.
Salah satu kisah menarik datang dari seorang pedagang senior di salah satu pasar tradisional di Kediri yang telah menghabiskan sekitar 35 tahun hidupnya sebagai pelaku usaha pasar. Kepada awak Media Tanda Global, pria yang memilih tidak disebutkan namanya itu membagikan pandangannya tentang perubahan dunia perdagangan sekaligus perjalanan panjangnya dalam mencari usaha yang benar-benar cocok untuk digeluti.
Belanja Online Bukan Ancaman Utama
Maraknya platform belanja online yang semakin digemari masyarakat kerap dianggap sebagai penyebab menurunnya aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Namun, menurut pedagang tersebut, fenomena itu tidak sepenuhnya benar.
Ia menilai perdagangan online dan offline memiliki pasar masing-masing. Keberadaan toko daring memang menawarkan kemudahan dan harga yang kompetitif, tetapi bukan berarti secara langsung mematikan aktivitas jual beli di pasar konvensional.
“Online itu sebenarnya tidak terlalu memengaruhi perdagangan secara keseluruhan. Orang tetap melihat tempat dan nama yang sudah dipercaya,” ujarnya.
Menurutnya, pasar tradisional masih memiliki keunggulan yang sulit digantikan oleh teknologi digital. Konsumen dapat melihat kondisi barang secara langsung, memeriksa kualitasnya, bahkan berinteraksi langsung dengan penjual sebelum memutuskan untuk membeli.
Ia meyakini bahwa pada akhirnya sebagian masyarakat akan tetap kembali berbelanja secara langsung.
“Kalau offline itu lebih jelas. Barang bisa dipegang, kualitasnya bisa dilihat langsung, jadi orang tahu sendiri bagaimana kondisinya,” katanya.
Tiga Dekade Lebih Bertahan di Pasar
Di balik optimisme tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Pedagang yang kini menjual jilbab itu mengaku telah menekuni dunia pasar sejak masih lajang.
Selama lebih dari tiga dekade, ia tidak langsung menemukan usaha yang tepat. Berbagai jenis dagangan pernah dicobanya sebelum akhirnya merasa cocok dengan usaha yang dijalankan saat ini.
“Saya berproses di pasar. Pindah-pindah jualan hampir 15 kali. Prosesnya sangat lama, mencari mana yang benar-benar menjadi ‘jodoh’ dagangan saya,” kenangnya.
Perjalanan itu membawanya menjajal berbagai usaha. Ia pernah berjualan sayuran, pindang, topi, sabuk, pakaian bekas, hingga membuka usaha pracangan atau toko kelontong. Setiap perpindahan jenis dagangan menjadi bagian dari proses belajar sekaligus upaya bertahan di tengah dinamika pasar.
Kesuksesan Butuh Proses
Bagi pedagang senior tersebut, perubahan usaha dan pasang surut dalam berdagang merupakan hal yang wajar. Pengalaman panjangnya mengajarkan bahwa tidak ada keberhasilan yang datang secara instan.
Menurutnya, setiap orang yang ingin mencapai kesuksesan harus siap menjalani proses panjang, penuh perjuangan, dan tidak jarang disertai kegagalan.
“Semuanya itu proses. Orang yang ingin mencapai puncak juga membutuhkan proses,” tuturnya.
Kisahnya menjadi gambaran nyata tentang ketangguhan pedagang pasar tradisional yang terus bertahan di tengah perubahan zaman. Meski teknologi terus berkembang dan pola belanja masyarakat berubah, semangat untuk beradaptasi dan mencari peluang tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Penulis: Intan Nur Aini
Editor: Aditya Efendi




















Tinggalkan Balasan