Tradisi Kebur Ubalan 2026, Warisan Leluhur yang Terus Hidup di Sumber Mata Air Ubalan

Dua gunungan hasil bumi disiapkan di kawasan sumber mata air Ubalan sebagai bagian dari prosesi sedekah hasil bumi dalam tradisi Kebur Ubalan 2026 di Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Sabtu (4/7/2026). (Dok.Tandaglobalnews)

TandaGlobal.news | KEDIRI — Ratusan warga memadati kawasan sumber mata air Ubalan, Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Sabtu (4/7/2026), untuk mengikuti tradisi tahunan Kebur Ubalan 2026. Mengusung tema “Nguri-Nguri Budaya Leluhur”, tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini kembali digelar sebagai wujud pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas anugerah alam dan hasil pertanian.

Suasana berlangsung semarak sejak pagi. Gunungan hasil bumi yang tersusun dari aneka hasil panen masyarakat menjadi pusat perhatian sebelum diarak menuju kawasan sumber mata air Ubalan. Masyarakat dari berbagai kalangan memadati lokasi untuk menyaksikan prosesi adat, mengikuti doa bersama, hingga turut memeriahkan tradisi kebur atau perebutan hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan.

Kepala Desa Jarak, Muhammad Toha, mengatakan bahwa penyelenggaraan Kebur Ubalan merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga adat istiadat yang telah diwariskan oleh para leluhur.

“Tujuan utamanya adalah melestarikan adat. Karena adat ini sudah berjalan bertahun-tahun, mulai dari kepala desa yang awal sampai hari ini,” ujar Muhammad Toha di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar agenda tahunan, melainkan memiliki makna historis yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat agraris. Pada masa lalu, ritual Kebur Ubalan menjadi sarana doa bersama untuk memohon turunnya hujan agar sumber air tetap melimpah dan lahan pertanian masyarakat tidak mengalami kekeringan.

Sejumlah kajian akademik menyebutkan, tradisi Kebur Ubalan dimaknai sebagai ritual saling menyiram air di kawasan sumber mata air Ubalan sebagai simbol doa memohon turunnya hujan saat musim kemarau. Tradisi tersebut juga merepresentasikan rasa syukur masyarakat atas hasil panen, semangat gotong royong, toleransi, serta komitmen untuk terus melestarikan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga  Puisi Siswi Sekolah Rakyat Pekanbaru Bikin Peserta Haru

Seiring perkembangan zaman, Kebur Ubalan tidak lagi hanya dipandang sebagai ritual adat yang bersifat sakral, tetapi juga berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Meski dikemas lebih meriah, nilai-nilai utama yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Jarak.

Melalui tema “Nguri-Nguri Budaya Leluhur”, masyarakat Desa Jarak kembali memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar sumber mata air tetap terjaga, tanah tetap subur, dan hasil pertanian masyarakat terus meningkat. Harapan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian.

Selain prosesi adat, masyarakat juga menggelar berbagai bentuk sodakoh (sedekah) sebagai simbol rasa syukur. Kegiatan tersebut meliputi Sodakoh Makanan Matang sebagai bentuk kirim doa dan penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membangun Desa Jarak, Sedekah Hasil Bumi melalui gunungan hasil panen masyarakat, hingga pembagian 1.000 porsi dawet gratis, 1.000 cangkir kopi gratis, serta nasi pecel gratis kepada para pengunjung.

Di balik pembagian ribuan porsi dawet tersebut tersimpan filosofi yang telah dijaga selama bertahun-tahun. Muhammad Toha menjelaskan bahwa dawet dipercaya melambangkan rintik-rintik air hujan. Oleh karena itu, keberadaan dawet selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi Kebur Ubalan sebagai simbol doa agar hujan senantiasa membawa kehidupan dan keberkahan bagi masyarakat.

Tidak hanya masyarakat lokal, tradisi tersebut juga menarik perhatian generasi muda. Salah satunya Jasmin, Duta Budaya Timur Inspirasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025–2026, yang secara khusus hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Mahasiswi asal Kediri yang kini menempuh pendidikan di Yogyakarta itu mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi Kebur Ubalan, meski telah mengetahui keberadaan tradisi tersebut sejak 2023. Baginya, kesempatan itu menjadi pengalaman berharga sekaligus wujud tanggung jawab sebagai Duta Budaya untuk ikut mempromosikan dan melestarikan budaya Jawa.

“Pertama itu saya excited banget Kak, kaget karena panitianya itu pakai lurik-lurik. Dan saya tanya ke beberapa orang itu tidak keberatan atas hal itu. Jadi kayak support system-nya itu banyak banget, enggak dari pihak acara tapi dari masyarakatnya sendiri juga tersuport baiklah,” ujar Jasmin.

Ia mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat yang memadati kawasan sumber mata air Ubalan. Menurutnya, suasana yang sejuk, tertib, serta kehangatan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri yang membuat tradisi tersebut layak untuk terus dipertahankan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Baca Juga  Wali Kota Kediri Ikuti Riding City Tour Bersama Peserta Jambore Nasional Smallframe Indonesia

Sebagai generasi muda, Jasmin berharap promosi terhadap tradisi Kebur Ubalan dapat terus ditingkatkan agar semakin banyak masyarakat, khususnya kalangan muda, mengenal dan peduli terhadap kekayaan budaya daerah.

“Harapan saya sebenarnya enggak banyak sih, banyak-banyak promosi biar banyak orang tahu juga Kak. Karena hal kayak gini itu perlu banget untuk dilestarikan pertama, kedua perlu banget disebarluaskan Kak. Karena banyak banget sekarang anak muda itu yang sudah enggak pernah tahu lah sama hal-hal kayak gini,” pungkasnya.

Melalui pelaksanaan Kebur Ubalan 2026, Pemerintah Desa Jarak berharap tradisi yang telah diwariskan lintas generasi tersebut tetap lestari sebagai identitas budaya masyarakat. Selain menjadi media pelestarian adat, tradisi ini juga diharapkan mampu memperkuat kebersamaan warga, menjaga nilai-nilai gotong royong, serta menjadi daya tarik wisata budaya yang semakin dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah.

Sementara itu, Muhammad Toha berharap doa-doa yang dipanjatkan dalam tradisi tersebut membawa keberkahan bagi masyarakat Desa Jarak.

“Harapan kami ke depan, tujuan utama warga Desa Jarak sejahtera bisa tercapai. Hasil pertanian selalu bagus, melimpah, dan dijauhkan dari segala hama penyakit,” pungkasnya optimistis.

Tradisi Kebur Ubalan tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Jarak, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur. Melalui semangat gotong royong, rasa syukur, serta keterlibatan generasi muda dalam pelaksanaannya, tradisi ini diharapkan tetap lestari sebagai identitas budaya Kabupaten Kediri sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang terus berkembang di masa mendatang.


Jurnalis: Maya Rahmawati, Fitri Rahayu

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *