
Tandaglobal.news | Kediri – Menjelang panen bawang merah, sejumlah petani di Dusun Sidorejo, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, masih melestarikan tradisi Metek, sebuah ritual sedekah bumi yang diwariskan secara turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang telah diberikan. Tradisi tersebut digelar di tengah hamparan lahan bawang merah yang siap dipanen, Kamis (9/7/2026).
Pemilik lahan, Joko, mengatakan tradisi Metek telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan petani. Selain sebagai bentuk rasa syukur, kegiatan tersebut juga menjadi doa bersama agar proses panen berjalan lancar dan hasil yang diperoleh membawa keberkahan.
“Sedekah bumi ini sudah menjadi tradisi sejak dulu. Kami berkumpul untuk bersyukur sebelum bawang dipanen dan berdoa agar hasil panennya membawa berkah,” ujar Joko.
Berbeda dengan pelaksanaan sedekah bumi pada awal musim tanam, Sedekah Bumi yang digelar menjelang panen memiliki makna tersendiri. Seluruh jerih payah petani selama merawat tanaman selama berbulan-bulan diwujudkan dalam doa bersama sebelum hasil bumi dipetik.
Prosesi diawali dengan berkumpulnya para petani di pinggir lahan. Mereka menggelar kembul bujana, yakni makan bersama menggunakan alas daun pisang dengan hidangan sederhana yang dibawa secara swadaya. Menu yang disajikan umumnya berupa nasi, ayam kampung, telur rebus, serta berbagai lauk tradisional sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima.
Tradisi tersebut tidak hanya diikuti oleh pemilik lahan, tetapi juga para pekerja dan petani di sekitar lokasi. Suasana penuh keakraban terlihat saat mereka menikmati hidangan sambil berbincang mengenai hasil panen, kondisi cuaca, hingga persiapan musim tanam berikutnya.
Di lokasi, hamparan tanaman bawang merah tampak mulai mengering dan daunnya merunduk, menandakan umbi telah matang dan siap dipanen. Di sela-sela bedengan juga terlihat instalasi pipa irigasi yang digunakan petani untuk menjaga kebutuhan air selama masa budidaya. Kondisi tersebut memperlihatkan perpaduan antara pemanfaatan teknologi pertanian dengan pelestarian tradisi leluhur.
Menurut Joko, menjaga lahan pertanian merupakan bagian penting dalam mempertahankan keberlangsungan sektor pertanian di daerah. Karena itu, lahan yang dikelolanya akan tetap dipertahankan sebagai area budidaya dan tidak dialihfungsikan untuk kepentingan lain.
“Lahan ini akan tetap kami gunakan untuk bertani. Setelah panen selesai, tanah akan kami olah lagi untuk ditanami kembali,” katanya.
Ia menambahkan, tradisi Metek juga menjadi momen mempererat hubungan antarpetani. Melalui kegiatan tersebut, para petani dapat saling bertukar pengalaman, berdiskusi mengenai teknik budidaya, hingga memperkuat semangat gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai budaya dan kearifan lokal masih hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi pertanian. Tidak hanya menjaga warisan leluhur, tradisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menghargai alam, menjaga lahan produktif, serta memperkuat kebersamaan dalam kehidupan masyarakat agraris.
Jurnalis: Maulana Rahmadha