
Tandaglobal.news | KEDIRI – Arca legendaris Totok Kerot kembali menjadi pusat perhatian masyarakat melalui prosesi Merti Cagar Budaya berupa jamasan atau pembersihan arca yang digelar pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Taman Totok Kerot, Jalan Totok Kerot, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
Prosesi jamasan bukan sekadar membersihkan arca, melainkan menjadi bagian dari upaya pelestarian cagar budaya yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal. Kegiatan tersebut merupakan inisiatif mandiri para Juru Pelihara (Jubel) Cagar Budaya Kabupaten Kediri yang mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.
Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan (Jakala) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priatno Triwarso, mengatakan kegiatan Merti Cagar Budaya tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua yang dilaksanakan bertepatan dengan momentum Bulan Suro atau Tahun Baru Jawa 1960 B.
“Jamasan ini adalah inisiatif komunitas juru pelihara yang terdiri dari 19 orang di kabupaten dan dua orang dari provinsi. Mereka ingin menghidupkan kembali tradisi pelestarian, khususnya di bulan Suro, agar nilai-nilai budaya tidak hilang,” ujarnya.
Menurut Eko, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada perawatan fisik cagar budaya, tetapi juga menjadi momentum introspeksi diri, ungkapan rasa syukur atas datangnya tahun baru, doa memohon keselamatan dan kelancaran, serta bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur, gotong royong, dan ajaran para leluhur.
Rangkaian kegiatan diawali dengan slametan atau kenduren bersama, dilanjutkan pembacaan legenda Arca Totok Kerot, kemudian prosesi penjamasan simbolis yang diteruskan dengan pembersihan bersama oleh para juru pelihara.
Dalam pelaksanaannya, terdapat aturan khusus yang harus dipatuhi agar tidak merusak kondisi cagar budaya. Pembersihan hanya boleh dilakukan oleh juru pelihara yang memiliki pengetahuan dan kemampuan khusus. Media yang digunakan pun sangat sederhana, yakni air bersih dan sikat ijuk.
“Pembersihan cagar budaya tidak boleh menggunakan sabun ataupun cairan kimia lainnya. Begitu juga sikat plastik maupun sikat kawat tidak diperbolehkan karena dapat merusak permukaan batu cagar budaya,” jelasnya.
Eko menambahkan, air yang digunakan dalam prosesi jamasan diambil dari tujuh sumber mata air yang berada di wilayah Kabupaten Kediri, di antaranya Sumber Bendo, Sumber Tengger atau Kemanten Wonorejo, Menang Kendung, Sumberejo, dan Sendang Tirtokamandanu.
“Air yang digunakan untuk jamasan ini diambil dari tujuh sumber mata air. Angka tujuh melambangkan pitulungan atau pertolongan,” katanya.
Selain itu, bunga melati turut digunakan sebagai pewangi alami dalam prosesi penyucian arca.
“Bunga melati ini hanya simbol wangi-wangian. Tidak ada kaitan dengan tujuh rupa atau pancawarna, karena fokusnya adalah pensucian,” tandasnya.
Di balik prosesi tersebut, masyarakat juga diajak memahami sejarah dan legenda yang melekat pada Arca Totok Kerot. Secara ilmiah, arca tersebut merupakan Arca Dwarapala yang diperkirakan berasal dari akhir masa Kerajaan Kediri sekitar abad ke-13 berdasarkan langgam pahatnya. Meski demikian, legenda yang berkembang di masyarakat tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya.


Dalam cerita rakyat, Totok Kerot dikisahkan sebagai seorang putri dari wilayah selatan, putri seorang pertapa sakti, yang sangat mengagumi Sri Aji Jayabaya. Meski telah diingatkan agar tidak memaksakan kehendaknya, sang putri tetap bersikeras sehingga dikutuk menjadi raksasa karena perilakunya yang menyerupai buto, lalu berubah menjadi batu akibat keras kepala. Sosok arca digambarkan sedang duduk jongkok (metothok) sambil menggeretakkan gigi (kerot-kerot), yang kemudian melahirkan nama Totok Kerot.
“Legenda Totok Kerot mengajarkan kita pentingnya sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Secara arkeologi namanya Dwarapala, namun secara kebudayaan kita tetap menghargai legenda tersebut karena menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat,” ungkap Eko.
Ia menambahkan, tradisi jamasan yang sempat terhenti selama pandemi Covid-19 kini kembali digelar sebagai upaya menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya.
“Momentum ini sangat baik untuk mengenalkan warisan budaya kepada generasi muda. Arca Totok Kerot tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga mengajarkan filosofi hidup yang luhur,” jelasnya.
Usai pelaksanaan Merti Cagar Budaya Totok Kerot, rangkaian pelestarian budaya di Kabupaten Kediri akan berlanjut pada 12 Juli mendatang melalui prosesi ruwatan sekaligus penjamasan Wayang Krucil di Desa Bulupasar. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di kediaman Pak Brudin, seorang keluarga dalang yang hingga kini masih merawat koleksi wayang kuno warisan leluhurnya sebagai bagian dari tradisi Bulan Suro.
Jurnalis: Roni Ardiansyah