Sementara Wayang Wong Tantri Nandaka Harana menghadirkan kisah yang sarat nilai kebijaksanaan, kepemimpinan, keberanian, hingga kemenangan dharma atas adharma sebagai pedoman kehidupan.
Melalui pertunjukan tersebut, budaya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter yang tetap relevan bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kediri dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang telah mendukung penyelenggaraan Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 di Candi Tegowangi.
Menurut Ari, Candi Tegowangi memiliki nilai penting dalam perjalanan spiritual dan sejarah peradaban Nusantara. Keberadaannya tidak hanya sebagai situs bersejarah, tetapi juga menyimpan warisan ajaran moral yang masih hidup hingga sekarang.
“Titik ini bukan hanya menjadi tempat yang biasa tetapi adalah titik spiritual peradaban yang sangat penting,” katanya.
Ia menjelaskan, relief dan kisah Kidung Sudamala yang terdapat di Candi Tegowangi menjadi bukti kuat hubungan sejarah antara situs tersebut dengan tradisi budaya yang hingga kini masih berkembang di Bali.
“Cerita Sudamala ternyata bersumber dari apa yang tergambar di candi ini,” ungkap Ari.
Melalui Sastra Saraswati Sewana Yatra, nilai-nilai budaya dan spiritual peninggalan leluhur kembali diperkenalkan kepada masyarakat. Di tengah keberagaman Kabupaten Kediri, kegiatan ini diharapkan terus menjadi ruang yang memperkuat persatuan, harmoni, dan toleransi antarumat beragama.




















Tinggalkan Balasan