
Tandaglobal.news | Kediri — Berdiri kokoh di atas aliran Sungai Brantas, Jembatan Lama Kediri yang memiliki nama resmi Brug Over den Brantas te Kediri bukan sekadar penghubung dua wilayah. Jembatan konstruksi besi pertama di Pulau Jawa ini merupakan bangunan cagar budaya yang menyimpan nilai historis tinggi sekaligus menjadi saksi perjalanan Kota Kediri sejak era Hindia Belanda.
Pembangunan jembatan berlangsung sekitar 15 tahun. Gagasan awal pembangunan muncul pada 16 Mei 1854 dengan rencana membangun jembatan permanen berbahan batu. Namun, proyek tersebut terhenti pada 1861 akibat kendala teknis dalam pemasangan tiang penyangga di tengah Sungai Brantas.
Perubahan terjadi ketika Insinyur Sytze Westerbaan Muurling mengajukan rancangan baru menggunakan konstruksi besi pada 1 Mei 1862. Setelah melalui beberapa kali proses lelang, pembangunan dimulai pada 18 September 1865 dan jembatan akhirnya dibuka untuk umum pada 18 Maret 1869.
Nilai sejarah yang dimilikinya kemudian mendapat pengakuan melalui penetapan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Kota berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Kediri Nomor 188.45/218/419.033/2019 tertanggal 15 Maret 2019. Penetapan tersebut diresmikan pada 18 Maret 2019, bertepatan dengan peringatan 150 tahun beroperasinya jembatan.
Penghubung Utama Sejak Masa Kolonial

Bagi Kusbiyantoro, Juru Pelihara Jembatan Lama Kediri, keberadaan jembatan ini memiliki peran penting dalam perkembangan Kota Kediri. Pada masa kolonial, jalur tersebut menjadi akses utama yang menghubungkan wilayah timur dan barat sekaligus mendukung distribusi logistik pemerintahan Hindia Belanda serta aktivitas masyarakat.
“Saat itu kawasan ini merupakan pusat kota. Karena itu dibangun jalur penghubung dari timur ke barat untuk memperlancar distribusi logistik pemerintahan Belanda dan mobilitas masyarakat,” ujarnya.
Teknik Konstruksi yang Masih Bertahan
Selain menjadi jembatan tertua di Kediri, bangunan ini memiliki teknik perakitan yang berbeda dibandingkan jembatan peninggalan Belanda lainnya. Bentuk rangkanya dirancang agar sampah yang terbawa arus Sungai Brantas tidak mudah menumpuk di sekitar tiang penyangga sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan.
Keunikan lainnya terdapat pada sistem penyambungan. Hingga kini, sebagian besar struktur utama masih menggunakan baut dan drat tanpa proses pengelasan, memperlihatkan teknik pembangunan abad ke-19 yang masih bertahan.
“Bentuk konstruksinya memang dibuat seperti ini agar sampah yang terbawa arus bisa berputar dan tidak langsung menumpuk di tiang. Bangunan aslinya juga tidak menggunakan las, semuanya memakai baut dan drat,” jelas Kusbiyantoro.
Ia menambahkan, sambungan yang menggunakan las merupakan hasil perbaikan pada masa setelah pembangunan awal dan kini beberapa di antaranya mulai mengalami korosi.
Menjadi Saksi Perjalanan Sejarah
Selama 157 tahun, jembatan ini telah menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi di Kota Kediri, termasuk situasi pasca-Gerakan 30 September 1965.
“Peristiwa yang paling membekas adalah tahun 1965. Saat itu ada banyak jenazah yang hanyut dan sebagian tersangkut di sekitar jembatan,” kenangnya.
Kelalaian Pengunjung Menjadi Ancaman
Meski struktur utamanya masih dipertahankan, sejumlah komponen telah mengalami penggantian seiring berjalannya waktu, termasuk bantalan yang semula menggunakan kayu jati.
Menurut Kusbiyantoro, ancaman terbesar terhadap kelestarian jembatan saat ini justru berasal dari kelalaian pengunjung. Puntung rokok yang dibuang sembarangan beberapa kali memicu kebakaran pada rumput kering maupun sampah yang tersangkut di sela-sela struktur jembatan.
“Yang paling penting, kalau merokok jangan membuang puntung sembarangan. Sebaiknya juga tidak merokok di atas Jembatan Lama karena sudah beberapa kali terjadi kebakaran akibat hal tersebut,” tegasnya.
Ia menjelaskan, api mudah membesar ketika rumput kering atau sampah yang tersangkut di sela-sela jembatan tersulut puntung rokok yang masih menyala.
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Di akhir wawancara, Kusbiyantoro berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin peduli terhadap keberadaan Jembatan Lama Kediri. Menurutnya, jembatan tersebut bukan sekadar sarana penghubung, melainkan warisan budaya yang merekam perjalanan panjang Kota Kediri dan patut dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.


Jurnalis: Stefani Eka Shaputri




















Tinggalkan Balasan