
Tandaglobalnews Dusun Kemiran, Juni 2026 –Sisi Lain Kemarau di Dusun Kemiran: Air Melimpah, Namun Tikus dan Wereng Mengintai Sawah
Dusun Kemiran, Juni 2026 – Riuh angin sawah di pertengahan tahun mengiringi langkah kaki Heri (60) saat mengontrol petakan lahannya di Dusun Kemiran. Pria yang sudah hampir tujuh tahun menggantungkan hidupnya dari bertani padi di kawasan ini paham betul bahwa setiap musim membawa ceritanya sendiri. Bagi sebagian orang, musim kemarau di pertengahan tahun diidentikkan dengan kekeringan, namun di Dusun Kemiran, masalah utamanya justru berada di balik rimbunnya daun padi yang menghijau.
Berdasarkan penuturan Heri, kondisi pengairan atau irigasi untuk pertanian di wilayahnya pada pertengahan tahun ini sebenarnya tergolong sangat baik dan lancar. Air mengalir cukup untuk memenuhi kebutuhan lahan yang dikelola. Tidak tanggung-tanggung, Heri mengelola tiga lokasi lahan berbeda dengan luas masing-masing mencapai 200 meter persegi—satu di wilayah tempat tinggalnya, satu di lokasi lain, dan satu lagi di sebelah utara kampungnya.
Pertumbuhan tanaman pun terbilang eksponensial. Hanya dalam waktu 10 hari setelah masa tanam, padi-padi di sana sudah tumbuh memanjang dengan subur. Ironisnya, di tengah cuaca mendukung dan pasokan air yang mencukupi, musuh terbesar petani justru datang dari golongan ordo hama.
”Kalau musim-musim ini masalah pengairan lancar, cuma itu… masalah hama yang sulit ditanggulangi. Kalau masalah tanaman padi itu hamanya yaitu tikus sama wereng.”
Serangan Hama yang Merata
Ancaman ini ternyata tidak hanya mengintai tanaman padi. Berdasarkan pantauan di lapangan dan informasi dari petani lain, komoditas hortikultura seperti daun bawang dan bawang merah yang ditanam di sekitar area tersebut juga tidak luput dari serangan hama selama musim kemarau ini.
Bagi para petani, mengendalikan tikus dan wereng jauh lebih menguras energi dan pikiran dibandingkan menghadapi kepiting sawah. Jika kepiting sawah merusak pematang, obatnya sudah tersedia dan relatif mudah ditanggulangi. Namun, wereng yang menyerang langsung ke pembibitan membuat daun padi menguning sebelum berkembang, memaksa sebagian petani menunda masa tanam mereka. Hal inilah yang menyebabkan masa tanam di Dusun Kemiran tahun ini menjadi tidak serempak, berbeda dari musim-musim sebelumnya.
Dilema Ekonomi dan Bayang-Bayang Kegagalan Masa Lalu
Dari sudut pandang ekonomi, musim kemarau tahun ini sebenarnya membawa angin segar bagi harga jual. Sebagaimana siklus tahunan, harga gabah di pasaran merangkak naik sejak awal tahun. Aspek logistik seperti pupuk pun tidak menemui kendala berarti. Heri meluruskan isu yang beredar mengenai kenaikan harga pupuk; baginya, distribusi pupuk bersubsidi berjalan aman. Melalui sistem Kartu Tani, pengambilan jatah pupuk di kios resmi terdokumentasi dengan baik menggunakan verifikasi foto dan KTP.
Namun, bayang-bayang kegagalan tahun lalu masih menyisakan trauma mendalam bagi komunitas petani setempat. Heri menceritakan kisah pilu di mana pada musim sebelumnya, pengelolaan di tiga tempat sekaligus justru berakhir dengan kerugian besar akibat serangan hama yang tak terkendali.
”Kemarin itu, tiga tempat tidak ada yang menghasilkan uang (untung). Yang sini cuma dapat 5 juta rupiah, yang sana dapat 3 juta rupiah, dan yang di utara kampung cuma dapat 2,7 juta rupiah.”
Pendapatan tersebut bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya modal tanam kembali, membuat para petani dianalogikan mengalami kebangkrutan. Namun, bagi Heri dan rekan-rekannya, menyerah bukanlah pilihan. Tanah harus tetap digarap agar tidak mati dan kehilangan unsur haranya.
Menaruh Harapan pada Bulan September
Kini, dengan prediksi masa panen yang akan jatuh pada bulan September mendatang, doa-doa terbaik dipanjatkan ke langit Dusun Kemiran. Jika hama tikus dan wereng bisa ditekan dan tidak melakukan serangan masif susulan, Heri optimis hasil panen kali ini akan jauh lebih melimpah dibandingkan musim lalu.
”Kami cuma bisa minta doanya, semoga musim ini lancar, tanamannya bagus, dan hasilnya melimpah,” tutup Heri penuh harap, mewakili suara hati para petani yang sedang bertaruh nasib di bawah terik kemarau.




















Tinggalkan Balasan