






KEDIRI, Tandaglobal.news — Momentum 30 September diperingati dengan cara berbeda di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Rabu malam (30/9/2026), situs tersebut menggelar tasyakuran sekaligus sarasehan untuk mengenang pidato Presiden Soekarno di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960.
Kegiatan yang digelar bersama Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia dan sejumlah komunitas tersebut mengangkat kembali pidato Soekarno bertajuk To Build the World Anew.
Momentum itu oleh penyelenggara disebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali sejarah Pancasila di forum internasional kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Rangkaian kegiatan berlangsung di Rumah Cagar Budaya Ndalem Pojok.
Acara diawali doa lintas agama, dilanjutkan dengan kirim doa untuk Pahlawan Revolusi, menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza, pembacaan teks Pancasila dan UUD 1945, serta pengucapan Sumpah Jati Diri Bangsa.
Ketua Panitia Penyelenggara R.M. Kushartono mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk mengingat kembali pidato Soekarno pada Sidang Umum PBB yang menurutnya menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan sejarah Pancasila di tingkat internasional.
“Hampir seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, hari ini mungkin tidak ingat bahwa tanggal 30 September 1960 adalah hari yang sangat membanggakan bangsa Indonesia. Pada hari itu, dasar negara Pancasila diusung oleh Presiden kita di podium tertinggi dunia, Sidang Umum PBB,” ujar Kushartono.
Ia juga menyebut pidato tersebut tidak hanya membawa isu Indonesia, tetapi turut menyampaikan gagasan mengenai kehidupan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.
“Yang luar biasa, waktu itu Bung Karno berdiri bukan hanya atas nama Indonesia, tetapi mewakili bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Pidato tersebut mendapat sambutan luar biasa secara internasional,” tambahnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bhabinkamtibmas Desa Pojok Kristanto yang mewakili unsur pemerintah.
Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang mengangkat kembali sejarah pidato Soekarno di PBB.
“Atas nama pemerintah desa, saya sangat mengapresiasi acara tasyakuran mengenang pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 ini. Ini adalah kegiatan yang sangat bagus untuk menumbuhkan rasa bangga kita memiliki dasar negara Pancasila,” katanya.
Selain tasyakuran, kegiatan diisi sarasehan kebangsaan dengan menghadirkan guru sekaligus penggiat sejarah Kabupaten Kediri Hendro Wijanarko serta anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri Juwaini.
Hendro mengatakan Pancasila memiliki posisi sebagai dasar negara sekaligus nilai yang dapat terus diterapkan dalam menghadapi perubahan zaman.
“Pancasila adalah dasar negara yang sangat luar biasa karena mampu menyatukan kebinekaan Indonesia. Pancasila itu statis sekaligus dinamis—mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan selalu relevan kapan pun serta di mana pun,” ujarnya.
Sementara itu, Juwaini menyoroti konsistensi Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok dalam menggelar kegiatan yang berkaitan dengan sejarah dan kebangsaan.
Menurut dia, kegiatan serupa telah dilakukan secara rutin sejak 2019.
“Perjuangan mengusung Pancasila di dunia ini sudah digerakkan secara istiqomah oleh Ndalem Pojok dan rekan-rekan sejak 2019—artinya sudah berjalan tujuh tahun. Ini perjuangan yang membutuhkan waktu dan proses,” kata Juwaini.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa tasyakuran dan ramah tamah.
Penyelenggara berharap momentum tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang gagasan Soekarno mengenai Pancasila sekaligus mendiskusikan kembali relevansinya dalam kehidupan kebangsaan.



















Tinggalkan Balasan