JAKARTA, Tandaglobal.news — Lima awak kapal tanker MT Honour 25 tewas dalam pembajakan di perairan Somalia sebelum pasukan keamanan Puntland mengambil alih kapal dalam operasi penyelamatan pada 29 September 2026.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (30/9/2026), informasi tersebut disampaikan Kementerian Informasi Puntland, wilayah otonom di Somalia. Kelima korban terdiri atas tiga warga negara Pakistan, satu warga Myanmar, dan satu warga India.

Kapal MT Honour 25 sebelumnya dibajak pada April 2026 dengan membawa 17 awak kapal. Kapal berbendera Palau tersebut mengangkut sekitar 18.500 barel minyak ketika diserang kelompok perompak di lepas pantai Somalia.

Dalam operasi penyelamatan, pasukan keamanan Puntland berhasil menangkap 16 orang yang diduga terlibat dalam pembajakan.

Sementara itu, 11 orang lainnya dilaporkan melarikan diri dan masih dalam pengejaran aparat.

Pihak kepolisian maritim Puntland menyatakan kapal telah diamankan dan berada di bawah perlindungan pemerintah setempat.

Associated Press melaporkan empat awak kapal lainnya mengalami luka dalam insiden tersebut. Kondisi rinci seluruh awak yang diselamatkan belum sepenuhnya dijelaskan.

Empat WNI Sempat Menjadi Sandera

Kasus pembajakan MT Honour 25 turut menjadi perhatian pemerintah Indonesia karena terdapat empat warga negara Indonesia (WNI) di antara awak kapal tersebut.

Mengutip ANTARA, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI sebelumnya mengonfirmasi bahwa empat WNI menjadi korban pembajakan yang terjadi di sekitar perairan Hafun, Somalia, pada 22 April 2026.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, pada 30 April 2026 menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Nairobi dan otoritas Somalia, para WNI saat itu dilaporkan dalam kondisi baik.

Sejak insiden terjadi, pemerintah Indonesia melalui KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di Somalia untuk mengupayakan keselamatan dan pembebasan para awak kapal. Pada Mei 2026, Kemlu juga menyatakan komunikasi telah dilakukan, termasuk dengan pihak pembajak.

Sebelumnya, keluarga salah satu korban, yakni kapten kapal Ashari Samadikun, sempat mengungkapkan detik-detik mencekam sebelum komunikasi terputus.

Mengutip detikSulsel, Ashari sempat mengirim pesan suara kepada istrinya, Santi Sanaya, pada 21 April 2026 sekitar pukul 19.30 WITA. Dalam pesan tersebut, ia mengabarkan bahwa kapal yang ditumpanginya sedang diserang bajak laut.

Setelah menerima kabar itu, Santi berusaha menghubungi suaminya kembali. Namun, panggilan tersebut tidak mendapat respons.

Pembajakan Picu Kekhawatiran Keamanan Jalur Laut

Keberhasilan operasi penyelamatan MT Honour 25 belum sepenuhnya mengakhiri kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di kawasan Tanduk Afrika.

Reuters melaporkan insiden tersebut terjadi di tengah kembali munculnya aktivitas pembajakan di sepanjang pesisir Somalia. Kasus MT Honour 25 disebut menjadi salah satu insiden terbaru yang menyoroti ancaman terhadap kapal yang melintasi kawasan tersebut.

Kasus ini juga menyusul sejumlah insiden serupa yang melibatkan kapal dagang dan tanker di kawasan tersebut. Kondisi itu mendorong perhatian terhadap keamanan jalur pelayaran internasional, terutama bagi kapal yang melintasi perairan dekat Somalia.

Pihak berwenang Puntland menegaskan akan terus memburu para pelaku pembajakan yang masih buron serta memperkuat kerja sama keamanan maritim.

Sementara itu, perkembangan terbaru mengenai kondisi dan kepulangan empat WNI masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari Kemlu RI. Informasi resmi mengenai keselamatan mereka menjadi hal penting yang dinantikan keluarga dan masyarakat Indonesia.