


Tandaglobal.news | Kediri — Penemuan Candi Dorok di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri menjadi titik awal terungkapnya kembali jejak sejarah di kawasan tersebut.
Situs yang ditemukan secara tidak sengaja pada 1996 itu tidak hanya membuka fakta adanya peninggalan masa lampau, tetapi juga mendorong upaya pelestarian warisan budaya yang hingga kini terus dilakukan.
Candi Dorok pertama kali ditemukan oleh Tumidi saat sedang menggarap lahan pertanian. Kala itu, ia hendak menanam bibit, namun tanah yang digali terasa sangat keras sehingga tidak dapat ditembus seperti biasanya.
Rasa penasaran membuatnya terus menggali hingga akhirnya menemukan struktur bangunan yang belakangan diketahui sebagai bagian dari sebuah candi.
“Awalnya saya hendak menanam bibit, tetapi tanahnya sangat keras sehingga tidak bisa ditanami. Karena penasaran, saya terus menggali dan akhirnya menemukan sebuah candi,” ujar Tumidi.
Penemuan tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat dan pihak terkait. Seiring berjalannya waktu, berbagai upaya pelestarian dilakukan agar situs tersebut tetap terjaga sebagai salah satu warisan sejarah di Kabupaten Kediri.
Meski menjadi orang pertama yang menemukan Candi Dorok, Tumidi memilih tidak menjelaskan asal-usul maupun kerajaan yang diduga berkaitan dengan bangunan tersebut.
Menurutnya, penentuan latar belakang sejarah merupakan kewenangan para ahli dan instansi yang berkompeten agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat.
“Kalau soal kerajaan, saya khawatir kurang tepat menjelaskannya. Daripada informasi yang saya sampaikan simpang siur, lebih baik saya tidak menyebut candi ini berasal dari kerajaan mana. Itu biar menjadi ranah para ahli,” kata Tumidi.
Sikap tersebut menunjukkan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi sejarah. Baginya, perannya adalah menjaga dan merawat situs yang ditemukan, sementara kajian mengenai asal-usul maupun periodisasi candi menjadi ranah para peneliti dan instansi yang berwenang di bidang pelestarian cagar budaya.
Keberadaan Candi Dorok juga disambut antusias oleh masyarakat sekitar.
Situs tersebut dianggap menjadi bukti bahwa kawasan tempat mereka tinggal telah dihuni sejak masa lampau dan memiliki warisan budaya yang patut dijaga.
Antusiasme itu terlihat dari meningkatnya perhatian masyarakat terhadap lokasi penemuan setelah keberadaan candi diketahui secara luas.
“Warga tentu senang ketika ada penemuan candi. Mereka merasa desa ini memiliki peninggalan dari masa lampau yang menunjukkan kawasan ini sudah dihuni sejak zaman nenek moyang. Karena itu, masyarakat antusias dan lokasi ini menjadi ramai,” ungkap Tumidi.
Menurut Tumidi, struktur Candi Dorok yang terlihat saat ini diperkirakan bukan merupakan bangunan utuh.
Bagian yang tampak diduga merupakan bagian tengah bangunan, sedangkan bagian atasnya diperkirakan telah rusak setelah lama tertimbun tanah sebelum akhirnya ditemukan kembali.
Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya pelestarian agar sisa struktur yang masih ada tetap terjaga dari kerusakan lebih lanjut.
Selain bangunan candi, perhatian juga perlu diberikan pada kondisi lingkungan di sekitarnya.
Tumidi mengungkapkan masih ada beberapa bagian kawasan yang memerlukan pembenahan, salah satunya tebing di sisi candi yang sempat longsor pada musim hujan lalu.
Menurutnya, penanganan terhadap area tersebut penting dilakukan agar tidak mengganggu kelestarian situs maupun kenyamanan masyarakat dan wisatawan yang datang berkunjung.
Sebagai orang yang terlibat langsung menjaga keberadaan Candi Dorok sejak awal penemuannya, Tumidi berharap situs bersejarah tersebut terus dirawat dan dibenahi.
Ia meyakini lingkungan yang bersih, rapi, dan terawat akan membuat masyarakat maupun wisatawan merasa lebih nyaman saat berkunjung.
“Harapan saya sederhana, candi ini terus dirawat dan lingkungannya dibenahi agar tetap rapi. Kalau tempatnya bersih dan terawat, masyarakat maupun pengunjung tentu akan merasa lebih nyaman,” tutur Tumidi.
Harapan tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait dalam menjaga keberlangsungan Candi Dorok.
Dengan perawatan yang berkesinambungan, situs bersejarah ini diharapkan tetap lestari sebagai warisan budaya Kabupaten Kediri, menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi mendatang, sekaligus berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang memberi manfaat bagi masyarakat.




















Tinggalkan Balasan