Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam pembelajaran siswa.

Mereka dapat mengenal situasi pelayanan kesehatan di lapangan, mulai dari membantu pemeriksaan hingga menyampaikan informasi kepada warga.

Persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu pekan sebelum pelaksanaan.

Sekolah menyiapkan kebutuhan program, mengurus perizinan kepada pengelola pasar dan pihak terkait, serta membagikan kupon kepada calon penerima layanan.

Untuk menjaga kelancaran pemeriksaan, sekolah membatasi kuota maksimal 50 orang.

Jumlah tersebut disesuaikan dengan ketersediaan tenaga dan perlengkapan pemeriksaan.

Imam menyebut antusiasme warga cukup tinggi. Sejak kegiatan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, para pedagang terlihat mendatangi lokasi untuk memanfaatkan layanan tersebut.

“Kami memang membatasi kuota 50 karena tenaga kami juga terbatas. Kupon dibagikan sejak pagi agar pelaksanaannya tidak terlalu membludak,” katanya.

Ke depan, sekolah berencana melanjutkan kegiatan serupa di lokasi berbeda, termasuk balai desa dan area CFD.

Pemilihan tempat yang ramai diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan sekaligus memberikan kesempatan praktik kepada lebih banyak siswa.

Imam menegaskan, keterlibatan siswa dalam kegiatan lapangan akan dilakukan secara bergiliran agar seluruh siswa memperoleh kesempatan praktik yang seimbang.

Ia berharap kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kedua pihak.

Para pedagang diharapkan semakin memahami pentingnya memantau kondisi kesehatan, sementara siswa memperoleh pengalaman nyata untuk menunjang kompetensi mereka.

“Harapan kami, para warga yang sudah mendapatkan tes kesehatan bisa mengetahui kondisi kesehatannya, memahami risiko-risikonya, dan mengantisipasi agar tetap sehat. Bagi anak-anak, mereka juga mendapatkan pengalaman nyata melalui praktik langsung di lapangan,” pungkasnya.