

KEDIRI, Tandaglobal.news — Jambore Kesehatan Jiwa Kabupaten Kediri menjadi ruang bagi penyandang gangguan jiwa untuk membangun kepercayaan diri sekaligus menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, Jumat (30/10/2026), tersebut juga menjadi sarana memperkuat dukungan sosial bagi para peserta.
Jambore Kesehatan Jiwa 2026 digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober. Pelaksanaannya dilakukan pada akhir Oktober karena membutuhkan waktu persiapan, termasuk untuk memastikan para peserta dapat mengikuti kegiatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Ahmad Khotib, menjelaskan bahwa jambore tersebut tidak sekadar menjadi ajang berkumpul. Kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berekspresi dan menunjukkan kemampuan sesuai potensi masing-masing.
Menurutnya, dukungan lingkungan sangat diperlukan agar penyandang gangguan jiwa tetap memiliki motivasi dan merasa menjadi bagian dari masyarakat.
“Jambore ini menjadi wadah bagi teman-teman untuk meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi. Mereka juga membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya agar bisa terus berkembang,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga berkesempatan memamerkan hasil keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pendampingan. Produk yang ditampilkan di antaranya kerajinan tangan berupa sapu, keset, dan berbagai produk lainnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Bambang Triyono Putro, menyampaikan bahwa penanganan kesehatan jiwa tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Upaya tersebut harus disertai deteksi dini, pendampingan, serta dukungan keluarga dan lingkungan sosial.
Di Kabupaten Kediri, upaya mendekatkan pelayanan kesehatan jiwa kepada masyarakat dilakukan melalui Posyandu Jiwa yang tersebar di berbagai wilayah. Layanan ini membantu pasien mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara rutin sekaligus memudahkan petugas dalam memantau kondisi mereka.
“Pencegahan perlu dimulai dari deteksi dini. Melalui layanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat, tanda-tanda gangguan jiwa dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya bisa dilakukan sesuai kebutuhan,” jelas Bambang.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendukung pasien agar dapat menjalani pengobatan secara teratur. Selain itu, dukungan tersebut diperlukan untuk membantu pasien terhindar dari stigma maupun diskriminasi.
Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tercatat mencapai sekitar 3.500 orang. Penanganan mereka melibatkan puskesmas, kader, pendamping, serta keluarga pasien.
Melalui Jambore Kesehatan Jiwa, pemerintah berharap para peserta mendapatkan kesempatan lebih luas untuk berinteraksi, menunjukkan potensi, dan membangun hubungan sosial. Penerimaan masyarakat diharapkan menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan kualitas hidup mereka.


















Tinggalkan Balasan