


KEDIRI, Tandaglobal.news — Sapu, keset, dan tas menjadi sejumlah produk kerajinan yang dihasilkan peserta pendampingan kesehatan jiwa di Kabupaten Kediri. Di balik produk tersebut, terdapat proses belajar, latihan, dan pendampingan kader untuk membantu peserta mengembangkan keterampilan sekaligus meningkatkan kemandirian.
Hasil kerajinan itu turut diperkenalkan dalam Jambore Kesehatan Jiwa 2026 yang digelar di kawasan Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, Jumat (30/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan yang dikembangkan melalui program pendampingan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Bambang Triyono Putro, menjelaskan bahwa pengembangan keterampilan merupakan salah satu bagian dari upaya mendukung produktivitas penyandang gangguan jiwa.
Menurutnya, pelayanan kesehatan jiwa tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan. Kesempatan untuk tetap beraktivitas dan mendapatkan dukungan dari lingkungan juga perlu diperhatikan.
“Teman-teman perlu mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan produktivitasnya. Dukungan keluarga serta lingkungan sangat penting agar mereka bisa terus berkembang,” jelas Bambang.
Salah satu bentuk kegiatan pendampingan tersebut diwujudkan melalui pelatihan membuat kerajinan tangan. Proses pembuatannya melibatkan kader karena kemampuan dan kondisi setiap peserta berbeda-beda.
Broto dari Puskesmas Ngadiluwih menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan merupakan karya peserta setelah mendapatkan pelatihan dan bimbingan. Namun, jumlah produksinya tidak selalu sama karena bergantung pada kondisi peserta dan keaktifan pendamping.
“Kerajinan ini dibuat oleh teman-teman sendiri setelah mendapat pelatihan. Kami mendampingi prosesnya karena mereka masih membutuhkan bimbingan, dan kemampuan untuk membuatnya juga bergantung pada kondisi masing-masing,” ujarnya.
Adapun produk yang dibuat meliputi tas, sapu, keset, serta kerajinan berbahan manik-manik yang sebelumnya juga pernah diproduksi. Sapu dipasarkan dengan harga sekitar Rp10.000 per buah, sedangkan tas dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp10.000, Rp13.000, hingga Rp23.000.
Tutik, yang juga berasal dari Puskesmas Ngadiluwih, menjelaskan bahwa hasil penjualan kerajinan biasanya dimasukkan ke kas kelompok. Dalam kegiatan tertentu, peserta juga dapat memperoleh uang transportasi atau honor sebagai bentuk dukungan agar mereka bisa hadir dan mengikuti kegiatan.
“Pendampingan tetap diperlukan, terutama ketika peserta sedang kurang bersemangat untuk beraktivitas. Kami berusaha membantu agar mereka bisa kembali mengikuti kegiatan dan membuat kerajinan sesuai kemampuannya,” tutur Tutik.
Meski demikian, kegiatan produksi belum dapat ditargetkan secara tetap. Pembuatan kerajinan biasanya kembali aktif pada waktu-waktu tertentu, bergantung pada kondisi peserta dan kesiapan kader yang mendampingi.
Para pendamping berharap perhatian pemerintah terhadap pengembangan keterampilan dan pelayanan kesehatan jiwa terus ditingkatkan. Keberadaan Posyandu Jiwa dinilai membantu mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Namun, pendampingan dan akses layanan masih perlu diperkuat agar dapat menjangkau pasien secara lebih merata.
Melalui kegiatan keterampilan tersebut, peserta diharapkan memiliki ruang untuk mengembangkan kemampuan, tetap produktif, dan menunjukkan potensi yang dimiliki. Hasil kerajinan bukan sekadar produk yang dapat dijual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan diri serta membuka kesempatan bagi peserta untuk lebih mandiri.


















Tinggalkan Balasan