Melalui doa bersama, masyarakat berharap para pemimpin bangsa senantiasa diberikan kesehatan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas demi kepentingan rakyat.

Pesan tersebut juga mendapat perhatian dari kalangan generasi muda.

Azizah Gitaning Ratri, siswi Sekolah Alam Saka, menilai kegiatan ini relevan dengan tantangan bangsa saat ini.

“Melihat kondisi masa-masa sekarang yang penuh tantangan dan musibah, kegiatan doa bersama ini sangat bagus dan penting untuk dilakukan. Menyandingkan Sumpah Pemuda dan Sumpah Jabatan ini memberikan ruang refleksi yang mendalam bagi kita semua,” ujarnya.

Gita berharap generasi muda semakin peduli terhadap pemerintahan dan memiliki pemikiran terbuka dalam memahami dinamika politik.

Nuansa kebangsaan turut diperkuat melalui kehadiran biola sebagai simbol kepekaan nurani.

Hal ini mengingatkan pada sejarah lagu Indonesia Raya yang pertama kali diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 dengan iringan biola oleh penciptanya, Wage Rudolf Supratman.

Dalam rangkaian acara, Yustiono Fatoni, anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri, membacakan Doa Pengantar Kebangsaan sebelum prosesi doa lintas agama.

Doa tersebut berisi harapan agar para pejabat yang jujur dan tulus mengabdi kepada rakyat senantiasa memperoleh kebaikan serta kekuatan untuk menjaga amanah.

Selain doa bersama, kegiatan diisi dengan menyanyikan lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke dan Bangun Pemuda Pemudi.

Panitia juga menyalurkan tali asih kepada 12 anak yatim dan warga fakir miskin sebagai wujud kepedulian sosial.

Melalui tasyakuran ini, penyelenggara mengajak masyarakat menjadikan Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum untuk memperkuat persatuan, mengawal nilai moral kepemimpinan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Dari Ndalem Pojok, Kabupaten Kediri, doa dan harapan dipanjatkan agar para pemimpin bangsa mampu menjalankan amanah dengan jujur dan bertanggung jawab demi terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.