Menteri Kehutanan Raja Antoni menyatakan bahwa operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan dengan memantau potensi awan hujan yang dapat disemai.

Dalam laporan IDN Times, OMC disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah melalui udara untuk mendukung penanganan karhutla. Langkah tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pengerahan personel dan peralatan pemadaman di darat.

Pendekatan melalui udara dan darat diperlukan untuk mendukung penanganan kebakaran di berbagai wilayah. OMC diarahkan untuk memanfaatkan potensi hujan, sedangkan petugas di lapangan tetap melakukan pemadaman sesuai kondisi kebakaran.

Pemerintah juga perlu terus memantau perkembangan titik api, kondisi cuaca, serta wilayah yang masih membutuhkan penanganan. Dengan demikian, langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Hujan yang mengguyur Katingan Selatan, Palangka Raya, Kasongan, dan Pangkalan Bun menjadi perkembangan positif bagi upaya penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.

Meski demikian, efektivitas hujan dalam membantu mengendalikan kebakaran bergantung pada intensitas dan durasi hujan, kondisi lahan, serta lokasi titik api. Hujan ringan hingga sedang di suatu daerah belum tentu cukup untuk mengatasi kebakaran di seluruh wilayah.

Karena itu, pelaksanaan OMC tetap perlu berjalan bersama pemadaman langsung dan pemantauan kondisi lapangan. Pemerintah juga perlu memastikan penanganan terus dilakukan di wilayah yang masih mengalami kebakaran.

Pelaksanaan OMC pada 15–16 Oktober 2026 menunjukkan upaya pemerintah memanfaatkan potensi hujan sebagai salah satu bagian dari strategi penanganan karhutla. Namun, perkembangan kondisi kebakaran selanjutnya tetap memerlukan evaluasi dan pemantauan dari instansi terkait.