
KEDIRI, Tandaglobal.news — Lomba Tingkat II Pramuka Penggalang tingkat SD/MI yang digelar Kwartir Ranting (Kwarran) Kecamatan Pare di halaman Kantor Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Sabtu (17/10/2026), menjadi sarana pembentukan karakter bagi peserta didik. Melalui empat cabang perlombaan, yakni pionering, cerdas cermat, sandi, dan yel-yel, siswa dilatih untuk disiplin, mandiri, berani, bertanggung jawab, serta mampu bekerja sama dalam tim.
Pembina SDN Bendo 1 Kecamatan Pare, Naning Soehermijati, S.Pd., mengatakan kegiatan kepramukaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang telah dipelajari selama latihan di sekolah.
Dalam perlombaan, peserta dituntut menyelesaikan tugas secara mandiri karena pembina tidak mendampingi mereka secara langsung.
“Kegiatan ini melatih anak-anak untuk disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri. Mereka harus mampu menyelesaikan tugas yang diberikan serta mengikuti perlombaan dengan semangat,” ujar Naning.
Ia menjelaskan, setiap cabang perlombaan memiliki keterampilan yang perlu dikuasai peserta. Pionering melatih kemampuan tali-temali, sedangkan cerdas cermat menguji pengetahuan umum dan kepramukaan.
Pada cabang sandi, peserta harus menguasai sandi kotak, Morse, dan semaphore. Sementara itu, lomba yel-yel mengembangkan kreativitas, kekompakan, serta keselarasan gerakan dengan ucapan.
Naning menambahkan, peserta juga diberi kesempatan mengembangkan kreativitas sendiri, khususnya dalam menyusun yel-yel. Pembina tetap memberikan arahan selama latihan, tetapi siswa didorong untuk menghasilkan ide dan gerakan yang tidak sekadar meniru karya orang lain.
Untuk mempersiapkan peserta, sekolah terlebih dahulu menyeleksi siswa berdasarkan kemampuan masing-masing. Siswa yang memiliki keterampilan dalam bidang kepramukaan dan pengetahuan umum kemudian mendapatkan latihan agar dapat mengikuti perlombaan secara maksimal.
Hal serupa disampaikan Sekar, pembina dari SDN Pare 1. Ia menjelaskan, sekolah melakukan seleksi berdasarkan bakat dan kemampuan siswa sebelum menentukan peserta yang akan mengikuti perlombaan.
Setelah pengumuman kegiatan diterima, pihak sekolah berkoordinasi dengan kepala sekolah dan wali kelas untuk mempersiapkan siswa.
Menurut Sekar, persiapan berlangsung lebih dari dua minggu dengan latihan yang mencakup empat cabang perlombaan. Selain mengasah keterampilan, sekolah juga mempersiapkan kondisi fisik dan mental peserta agar lebih percaya diri ketika berkompetisi.
“Anak-anak harus berani dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Bagi kami, kemenangan itu bonus. Kalau belum berhasil, mereka bisa belajar dan mencoba lagi pada kesempatan berikutnya,” ungkap Sekar.
Ia menilai pengalaman mengikuti lomba penting bagi siswa, baik yang sudah pernah berkompetisi maupun yang baru pertama kali mengikutinya. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat belajar menghadapi tantangan, mengembangkan keberanian, dan menghargai proses latihan yang telah dijalani.
Sekar berharap peserta tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga mampu mengambil nilai positif dari kegiatan kepramukaan. Menurutnya, kemandirian, tanggung jawab, dan keberanian merupakan bekal penting bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Naning berharap kegiatan Pramuka terus mendapat dukungan melalui pembinaan rutin di sekolah. Ia menilai kegiatan ekstrakurikuler tersebut masih diminati siswa, meskipun waktu pelaksanaannya terkadang terbatas karena harus menyesuaikan jadwal belajar mengajar.
Ia juga menekankan pentingnya penanaman sopan santun, kepedulian, disiplin, dan gotong royong sesuai nilai-nilai Dasa Darma Pramuka.
Dengan pembinaan yang berkelanjutan, kegiatan kepramukaan diharapkan dapat membantu siswa berkembang tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan keterampilan sosial.



















Tinggalkan Balasan