
KEDIRI, Tandaglobal.news — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah kerja Puskesmas Keling, Kabupaten Kediri, menunjukkan peningkatan cukup tajam dalam tiga bulan terakhir. Berdasarkan pencatatan Puskesmas Keling, jumlah kasus pada September 2026 mencapai 556 kasus, hampir dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Dokter Puskesmas Keling, dr. Haya Hanif M., mengatakan jumlah kasus ISPA pada Juli tercatat sebanyak 297 kasus.
Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 324 kasus pada Agustus, sebelum melonjak hingga 556 kasus pada September.
“Pada Juli tercatat 297 kasus, kemudian Agustus 324 kasus, dan September meningkat menjadi 556 kasus,” kata dr. Haya, Rabu (7/10/2026).
Pencatatan kasus dilakukan berdasarkan kelompok usia.
Dari data tersebut, kasus banyak ditemukan pada anak-anak, terutama usia 1 hingga 9 tahun dan kelompok usia sekolah.
Selain itu, ISPA juga ditemukan pada kelompok dewasa hingga usia paruh baya.
Keluhan yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan pilek biasa dan radang tenggorokan akut.
Secara umum, gejala awal dapat berupa demam ringan atau subfebris yang disertai batuk, baik batuk kering maupun berdahak, serta pilek.
Menurut dr. Haya, keluhan ISPA pada kondisi ringan umumnya dapat berlangsung selama satu hingga dua hari.
Namun, apabila tidak ditangani dengan baik dan kondisi berkembang lebih berat, keluhan dapat berlangsung lebih lama.
“Awalnya biasanya demam ringan, batuk dan pilek. Kalau tidak tertangani dengan baik, keluhannya bisa berlanjut lebih lama,” jelasnya.
Ia menyebut perubahan kondisi cuaca turut menjadi perhatian. Perbedaan suhu yang cukup terasa antara siang yang panas dan malam yang lebih dingin dapat membuat sebagian masyarakat lebih rentan mengalami gangguan saluran pernapasan. Kondisi dingin juga dapat memicu kambuhnya reaksi alergi pada sebagian orang.
Meski demikian, peningkatan kasus tersebut belum dapat disebut memiliki satu penyebab resmi.
Puskesmas mencatat adanya tren kenaikan kasus, sementara masyarakat diminta tetap waspada terhadap faktor lingkungan dan kondisi tubuh masing-masing.
Kelompok anak-anak menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian lebih.
Selain daya tahan tubuh yang masih berkembang, paparan debu, terutama saat beraktivitas atau bepergian di jalan, dapat menjadi salah satu faktor yang memperburuk keluhan pernapasan.
Untuk kasus ringan, masyarakat dianjurkan mencukupi waktu istirahat, menjaga pola makan bergizi seimbang, memperbanyak minum air putih dan menjaga pola tidur.
Obat pereda gejala dapat digunakan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.
Apabila kondisi tidak kunjung membaik, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas.
Pemberian obat tertentu, termasuk antibiotik, harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dokter dan tidak digunakan secara sembarangan.
Sementara itu, pasien yang mengalami sesak napas berat atau penurunan kesadaran membutuhkan penanganan segera dan dapat dirujuk ke rumah sakit.
dr. Haya juga mengimbau masyarakat melakukan langkah pencegahan sederhana, terutama ketika bepergian atau berada di lingkungan yang banyak debu. Penggunaan masker, mencuci tangan secara rutin dan menerapkan etika batuk dinilai penting untuk membantu mengurangi risiko penularan penyakit saluran pernapasan.
“Kalau mulai merasa tidak enak badan, sebaiknya segera istirahat. Jaga kebersihan, gunakan masker saat bepergian, rajin mencuci tangan dan perhatikan asupan makanan serta vitamin untuk membantu menjaga daya tahan tubuh,” pungkasnya.
Dengan lonjakan kasus hingga 556 kasus pada September, masyarakat di wilayah Keling diharapkan meningkatkan kewaspadaan, khususnya terhadap gejala yang muncul pada anak-anak dan kelompok rentan, serta tidak menunda pemeriksaan apabila keluhan semakin berat.



















Tinggalkan Balasan