Hal senada disampaikan Jenny, pembimbing MTs Diponegoro.
Ia mengatakan peserta dari madrasahnya juga terlebih dahulu menjalani seleksi di sekolah, terutama bagi siswa yang memiliki pengalaman mengikuti lomba.
Persiapan dilakukan sekitar satu minggu setelah adanya rapat penetapan kegiatan.
Para siswa berlatih sesuai tema yang telah ditentukan penyelenggara.
Dalam penentuan tema, peserta mengambil undian yang telah disiapkan.
“Anak-anak kami persiapkan sekitar satu minggu. Sebelumnya ada seleksi di sekolah, terutama untuk melihat kemampuan mereka dalam mewarnai dan melukis sesuai ketentuan,” kata Jenny.
Menurut Jenny, kegiatan tersebut juga memiliki nilai penting dalam membangun rasa percaya diri siswa.
Mereka didorong untuk berani tampil, mengikuti kegiatan di luar sekolah, serta memperoleh pengalaman baru.
Ia mengatakan hasil akhir perlombaan bukan menjadi satu-satunya tujuan.
Keikutsertaan siswa dalam kegiatan seni menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan.
“Menang atau kalah itu sudah menjadi takdir. Yang penting anak-anak berani mengikuti dan mendapatkan pengalaman,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal ruang budaya dan mengekspresikan kreativitas melalui karya seni.
Para pembimbing berharap lomba serupa dapat terus digelar setiap tahun sehingga semakin banyak bakat seni siswa yang mendapat ruang untuk berkembang.
Supriyanto berharap kegiatan seni dan budaya tidak berhenti pada satu agenda saja, tetapi dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi pelajar untuk mengasah kemampuan sekaligus memperkaya pengalaman mereka.



















Tinggalkan Balasan