

KEDIRI, Tandaglobal.news — Kreativitas pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) Islamiyah Plemahan dituangkan melalui karya seni dalam lomba melukis bertema budaya di Museum Sri Aji Jayabaya, Kabupaten Kediri, Sabtu (26/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, dua siswa pilihan dari MTs Islamiyah Plemahan dipercaya mewakili madrasah setelah melalui proses seleksi.
Keduanya mengangkat cerita rakyat Joko Kendil sebagai tema karya yang dituangkan dalam beberapa panel gambar yang saling terhubung membentuk sebuah alur cerita.
Pembina MTs Islamiyah Plemahan, Supriyanto (43), mengatakan persiapan telah dilakukan sekitar satu minggu sebelum perlombaan.
Para peserta terlebih dahulu membuat desain dan mempersiapkan konsep lukisan sesuai tema yang diperoleh.
“Persiapannya sekitar satu minggu. Anak-anak membuat desain terlebih dahulu, kemudian konsepnya dibuat dalam beberapa gambar yang nantinya bersambung menjadi satu cerita,” ujar Supriyanto, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, setiap sekolah atau madrasah mendapatkan tema masing-masing.
Kelompok dari MTs Islamiyah Plemahan mendapatkan tema cerita rakyat Joko Kendil.
Konsep tersebut kemudian dituangkan menjadi empat bagian gambar yang saling berkaitan.
Dengan cara itu, peserta tidak hanya dituntut mampu melukis, tetapi juga menyusun visual agar alur cerita dapat dipahami melalui karya.
Untuk mengikuti perlombaan, peserta membawa sejumlah perlengkapan seperti kuas, tipe-X atau stipo, serta cat cair.
Sementara media dasar berupa kanvas disiapkan oleh panitia.
Supriyanto menyebut dua peserta yang dikirim merupakan siswa hasil seleksi madrasah.
Keduanya dipilih berdasarkan kemampuan dan minat dalam bidang seni lukis.
Ia menilai kegiatan di luar lingkungan sekolah memberikan pengalaman penting bagi siswa.
Selain menjadi kesempatan mengembangkan bakat, mengikuti lomba juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi peserta untuk mengetahui kemampuan dan hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.
“Yang paling penting anak-anak mendapatkan pengalaman. Kegiatan seperti ini bisa menjadi evaluasi supaya mereka terus berkembang dan bakat melukisnya semakin terasah,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Jenny, pembimbing MTs Diponegoro.
Ia mengatakan peserta dari madrasahnya juga terlebih dahulu menjalani seleksi di sekolah, terutama bagi siswa yang memiliki pengalaman mengikuti lomba.
Persiapan dilakukan sekitar satu minggu setelah adanya rapat penetapan kegiatan.
Para siswa berlatih sesuai tema yang telah ditentukan penyelenggara.
Dalam penentuan tema, peserta mengambil undian yang telah disiapkan.
“Anak-anak kami persiapkan sekitar satu minggu. Sebelumnya ada seleksi di sekolah, terutama untuk melihat kemampuan mereka dalam mewarnai dan melukis sesuai ketentuan,” kata Jenny.
Menurut Jenny, kegiatan tersebut juga memiliki nilai penting dalam membangun rasa percaya diri siswa.
Mereka didorong untuk berani tampil, mengikuti kegiatan di luar sekolah, serta memperoleh pengalaman baru.
Ia mengatakan hasil akhir perlombaan bukan menjadi satu-satunya tujuan.
Keikutsertaan siswa dalam kegiatan seni menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan.
“Menang atau kalah itu sudah menjadi takdir. Yang penting anak-anak berani mengikuti dan mendapatkan pengalaman,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk mengenal ruang budaya dan mengekspresikan kreativitas melalui karya seni.
Para pembimbing berharap lomba serupa dapat terus digelar setiap tahun sehingga semakin banyak bakat seni siswa yang mendapat ruang untuk berkembang.
Supriyanto berharap kegiatan seni dan budaya tidak berhenti pada satu agenda saja, tetapi dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi pelajar untuk mengasah kemampuan sekaligus memperkaya pengalaman mereka.



















Tinggalkan Balasan