
SIDOARJO, Tandaglobal.news — Sebanyak 273 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Para santri sebelumnya menerima makanan MBG yang didistribusikan ke lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
Berdasarkan keterangan pendamping Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.
Makanan tersebut dikirim ke pondok sekitar pukul 10.00 WIB dan kemudian dibagikan kepada para santri sekitar tengah hari.
Namun, tidak semua santri langsung mengonsumsinya karena sebagian masih mengikuti kegiatan di lingkungan pesantren.
Keluhan kesehatan mulai muncul pada sore hari hingga menjelang malam.
Sejumlah santri mengalami mual, muntah, diare, sakit perut hingga pusing. Para santri yang kondisinya membutuhkan penanganan kemudian dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di Sidoarjo.
Dalam kejadian tersebut, beberapa santri juga mengaku menemukan rasa yang berbeda pada menu sayuran.
Tumis buncis baby corn disebut terasa kecut atau masam. Kendati demikian, rasa tersebut belum dapat dipastikan berkaitan dengan penyebab keracunan karena pemeriksaan terhadap makanan dan korban masih dilakukan.
Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis.
Ia juga memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
“Tidak ada yang meninggal, semua pasien tertangani dengan baik. Kalau ada berita yang menyatakan ada yang meninggal, itu tidak benar,” kata Subandi.
Hingga Selasa malam, sebanyak 273 santri tercatat menjalani perawatan di tiga rumah sakit.
Sebanyak 200 santri berada di RSUD R.T. Notopuro, 58 santri di RSI Siti Hajar, dan 15 santri di RS Delta Surya.
Pemkab Sidoarjo selanjutnya akan melakukan pemeriksaan terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan MBG.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala keracunan yang dialami para santri.
Hingga kini, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut, sehingga belum dapat disimpulkan makanan atau bahan tertentu sebagai sumber keracunan.




















Tinggalkan Balasan