KEDIRI, Tandaglobal.news — Fenomena El Nino membuat musim kemarau 2026 di wilayah Kediri dan sekitarnya diprediksi berlangsung lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kekeringan hingga berbagai dampak yang dapat muncul akibat kondisi cuaca yang lebih kering.
Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Dhoho Kediri melalui Satria Krida Nugraha mengatakan fenomena El Nino telah diprediksi sejak awal 2026.
Fenomena tersebut berpengaruh terhadap meningkatnya kondisi kering selama musim kemarau.
“Di tahun 2026 ini akan ada fenomena El Nino. El Nino ini adalah fenomena yang menyebabkan kemarau lebih kering daripada normalnya dan lebih panjang daripada normalnya,” kata Satria.
Kondisi tersebut sejalan dengan prediksi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur.
Untuk wilayah yang mencakup seluruh Kota Kediri dan bagian barat Kabupaten Kediri, musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung mulai awal Mei hingga akhir Oktober.
Periode tersebut menunjukkan kemarau dapat berlangsung cukup panjang di wilayah Kediri.
Saat ini, sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kediri, telah memasuki puncak musim kemarau.
BMKG memprediksi puncak kemarau di Jawa Timur secara dominan terjadi pada Agustus 2026, sementara sifat hujan selama musim kemarau diprediksi berada pada kategori bawah normal di sebagian besar wilayah.
Padahal, secara normal September dan Oktober sudah memasuki masa peralihan menuju musim penghujan.
Namun, kondisi tahun ini membuat masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi cuaca kering hingga memasuki Oktober.
Data BMKG khusus Kediri menunjukkan kondisi tersebut. Pada Oktober 2026, sifat hujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Kediri diprediksi berada pada kategori bawah normal.
Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di wilayah Kota Kediri, termasuk sebagian wilayah Mojoroto dan Pesantren.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah dampak yang mungkin muncul.
Selain kekeringan, risiko kebakaran juga meningkat seiring kondisi lingkungan yang semakin kering.
Cuaca panas dan kondisi kering yang berlangsung panjang juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan air, serta mengurangi aktivitas di bawah paparan panas secara berlebihan.
Satria mengatakan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan secara khusus merupakan kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Namun, berdasarkan informasi yang diterima BMKG dari BPBD, sejumlah wilayah sebelumnya rawan mengalami kekeringan.
Salah satunya wilayah Pojok, Kota Kediri.
Kendati demikian, kondisi tahun ini disebut masih relatif aman karena langkah mitigasi telah dilakukan sejak dini melalui koordinasi antarlembaga.
“Untuk wilayah Kota Kediri itu di wilayah Pojok. Ini alhamdulillah yang tahun-tahun sebelumnya ada bencana kekeringan, tahun ini masih cukup aman karena dari awal ketika kami berkoordinasi sudah dimitigasi sedini mungkin,” ujarnya.
Di tengah kondisi kemarau yang masih panjang, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran maupun gangguan kesehatan akibat cuaca panas.
BMKG juga terus mendorong penguatan diseminasi informasi cuaca, iklim, dan kebencanaan kepada masyarakat.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media, dinilai penting agar informasi peringatan dini dapat diterima masyarakat secara lebih luas dan cepat.
BMKG memprediksi kondisi kering di Kediri masih berlanjut hingga Oktober 2026, dengan sifat hujan di sebagian besar wilayah Kediri berada pada kategori bawah normal.
Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap kekeringan dan penggunaan air secara bijak perlu terus ditingkatkan.




















Tinggalkan Balasan