Kediri, Tandaglobal.news Hujan yang sempat mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Kediri, seperti Kecamatan Pare, Puncu, dan Kepung dalam beberapa hari terakhir memunculkan pertanyaan di tengah musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena tersebut masih tergolong normal dan bukan pertanda berakhirnya musim kemarau.

Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Dhoho Kediri, Satria Krida Nugraha, menjelaskan hujan yang terjadi dipengaruhi oleh fenomena Gelombang Rossby Ekuator yang sesekali melintasi wilayah Indonesia.

Menurutnya, keberadaan gelombang tersebut dapat memengaruhi kondisi atmosfer meski sedang memasuki musim kemarau.

Salah satu dampaknya ialah kecepatan angin menjadi lebih rendah dari kondisi normal sehingga memicu terbentuknya awan hujan yang menyebabkan hujan bersifat lokal.

“Fenomena hujan saat musim kemarau kemarin sebenarnya masih normal. Hal itu dipengaruhi oleh gelombang Rossby Ekuator yang menurunkan kecepatan angin dari rata-ratanya dan meningkatkan potensi hujan lokal,” jelas Satria.

Ia menambahkan, setelah 28 Juli kondisi cuaca di wilayah Kediri diperkirakan kembali mengikuti pola musim kemarau pada umumnya, dengan peluang hujan yang semakin berkurang.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk memperhatikan informasi cuaca terkini karena hujan lokal masih berpotensi terjadi dalam kondisi tertentu.

BMKG juga memprediksi curah hujan di wilayah Kediri pada periode Agustus hingga Oktober masih relatif rendah sehingga karakter musim kemarau diperkirakan tetap mendominasi.

Sementara itu, memasuki November, potensi hujan diperkirakan mulai meningkat seiring masa peralihan menuju musim hujan.

Terkait kapan musim kemarau akan berakhir secara pasti, BMKG Dhoho Kediri masih menunggu rilis resmi dari BMKG Pusat sebagai acuan prakiraan musim secara nasional.