KEDIRI, Tandaglobal.news Kekhawatiran terhadap keberadaan sumber air bersih membuat warga Desa Satak dan Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, terus menyuarakan perhatian terhadap aktivitas penambangan pasir di kawasan Afdeling Damarwulan.

Sebelumnya, pada Minggu (9/8/2026), sejumlah warga melakukan pembenahan jaringan pipa air bersih yang mengalami kerusakan.

Dalam kegiatan tersebut, warga juga memasang spanduk sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas penambangan pasir sekaligus ajakan untuk menjaga kelestarian sumber mata air.

Spanduk yang dibentangkan warga berisi pesan, “STOP! Penambangan Pasir, Warga Kec. Puncu Menolak Adanya Tambang Pasir, Selamatkan Mata Air, Lindungi Lingkungan, Jaga Masa Depan.”

Warga menilai perubahan kondisi lahan akibat aktivitas pengerukan perlu menjadi perhatian.

Mereka khawatir kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat berpengaruh terhadap sumber air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Ketua RW 01 Dusun Yani 1, Desa Satak, Mujianto (74), mengatakan keberadaan jaringan pipa air sangat penting bagi warga.

Perbaikan dilakukan secara swadaya karena sejumlah bagian saluran mengalami kerusakan.

“Pipa ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air warga. Kami berharap sumber air tetap terjaga dan aktivitas penggalian tidak sampai membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air, terutama saat musim kemarau,” ujar Mujianto saat ditemui pada Senin (17/8/2026).

Mujianto juga mengaku melihat perubahan kondisi lingkungan di sekitar lokasi.

Menurutnya, beberapa bagian tebing mengalami kerusakan sehingga berpotensi mengganggu jaringan pipa yang berada di kawasan tersebut.

Ia mengatakan kawasan itu sebelumnya juga pernah mendapat program penghijauan.

Namun, menurut penuturannya, sejumlah pohon yang berada di sekitar lokasi kini sudah tidak ada.

“Dulu ada penghijauan dengan penanaman pohon. Kami berharap kawasan ini kembali diperhatikan karena keberadaan pohon dan sumber air sangat penting bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, warga lainnya, Yanto, mengatakan perubahan bentuk lahan menjadi salah satu hal yang membuat masyarakat merasa khawatir.

Ia menyebut aktivitas penggalian pasir di kawasan tersebut sudah berlangsung sejak sekitar 2017.

“Kalau dibandingkan dulu, bentuk tanahnya sudah banyak berubah. Yang sebelumnya rata sekarang menjadi lebih dalam karena adanya pengerukan,” ungkap Yanto.

Menurutnya, masyarakat tidak hanya melihat persoalan tersebut dari sisi aktivitas pertambangan, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan sumber air dan kondisi lingkungan di sekitar lokasi.

Yanto berharap kondisi kawasan dapat menjadi perhatian pihak terkait sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Kekhawatiran warga semakin terasa ketika memasuki musim kemarau.

Berkurangnya debit sumber air berpotensi menyulitkan masyarakat yang mengandalkan sumber tersebut untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Bagi warga Desa Satak dan Desa Puncu, keberadaan mata air bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar.

Karena itu, mereka berharap ada langkah nyata untuk menjaga sumber air sekaligus memastikan kondisi lingkungan tetap aman.

Warga juga berharap adanya komunikasi dan pengawasan dari pihak terkait mengenai aktivitas pengerukan di wilayah tersebut.

Mereka ingin persoalan penambangan pasir dapat ditangani dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan serta kepentingan masyarakat yang berada di sekitar kawasan.