Sumber Jembangan juga mengembangkan konsep wisata edukasi.
Pengunjung dapat mengikuti kegiatan belajar membuat kompos, mengenal berbagai jenis tanaman, serta mempelajari cara meracik jamu tradisional. Pengelola juga rutin menggelar tradisi Grobyak Ikan yang mampu menarik sekitar 2.000 peserta.
Untuk menarik lebih banyak pengunjung, pengelola menerapkan sistem tiket dengan konsep bayar seikhlasnya.
Sebelumnya, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp2.000. Menurut pengelola, perubahan sistem tiket tersebut justru mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus pendapatan kawasan wisata.
Meski menyediakan area bermain air, pengelola melarang pengunjung berenang di embung.
Larangan tersebut diterapkan demi keselamatan karena kedalaman embung mencapai sekitar 3,5 hingga 4 meter.
Sementara itu, kualitas air dari sumber telah melalui pengujian laboratorium dan dinyatakan layak untuk dikonsumsi langsung.
Pengelola juga menjaga kelestarian sumber air melalui kegiatan penghijauan.
Pihak pengelola rutin menanam berbagai jenis pohon, seperti mahoni, pule, karet, dan matoa untuk mempertahankan kawasan resapan air serta menjaga keberlangsungan sumber mata air.
Pengembangan Sumber Jembangan juga melibatkan berbagai pihak melalui kolaborasi antara Pemerintah Desa Tempurejo, Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, SD Tempurejo 1 dan 2, BUMDes, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Kolaborasi tersebut mengusung tema kebudayaan Jawa sekaligus pengembangan ekowisata berkelanjutan.
Sekretaris Desa Tempurejo, Erika Rahayu, mengatakan program tersebut juga bertujuan menghidupkan kembali kegiatan seni dan budaya lokal yang sempat vakum.
Kegiatan seperti jaranan dan seni tari kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui pelatihan rutin bagi siswa sekolah dasar di Desa Tempurejo.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghidupkan kembali seni dan budaya lokal yang sebelumnya sempat vakum. Anak-anak sekolah dasar kami libatkan agar mereka mengenal dan mampu melestarikan budaya daerah,” kata Erika.
Selain budaya, program tersebut mendorong pemberdayaan pelaku UMKM melalui pengenalan berbagai produk unggulan desa.




















Tinggalkan Balasan