Bagi Jihan sendiri, menjadi Paskibraka merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.
Meski harus menjalani latihan dalam kondisi panas dan melelahkan, ia justru menikmati proses tersebut karena bisa bertemu dan berproses bersama teman-temannya.
“Latihannya seru banget. Enggak kerasa, tiba-tiba sudah pengukuhan. Perasaan baru sadar ikut tes, tiba-tiba sudah jadi Paskibraka,” kata Jihan.
Selama berada di karantina, Jihan juga mendapat banyak pelajaran, mulai dari kedisiplinan hingga membangun jiwa korsa.
Kebersamaan selama 24 jam bersama rekan-rekannya membuat proses latihan terasa semakin berkesan.
Meski begitu, ada satu hal yang tetap dirasakan selama menjalani karantina: rindu kepada orang tua dan suasana rumah.
“Pastinya ada (rindu), tapi kita harus sedikit berjuang menahan,” ujarnya.
Kini, rasa rindu itu terbayar lunas.
Pelukan yang terjadi setelah prosesi pengukuhan menjadi penanda bahwa perjuangan panjang para Paskibraka dan dukungan orang tua telah membawa mereka sampai pada satu tahap penting sebelum menjalankan tugas pada 17 Agustus mendatang.




















Tinggalkan Balasan