



KEDIRI, Tandaglobal.news — Sebanyak 75 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kediri 2026 resmi dikukuhkan di Pendopo Panjalu Jayati, Kamis (13/8/2026).
Mereka akan mengemban tugas dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.
Dari 77 anggota yang dikukuhkan, 38 di antaranya merupakan perempuan dan 37 laki-laki.
Namun, dua anggota mendapat tugas mewakili Kabupaten Kediri di tingkat Provinsi Jawa Timur. Dengan demikian, sebanyak 75 anggota akan bertugas dalam upacara tingkat Kabupaten Kediri.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana berpesan agar para Paskibraka tidak hanya menjalankan tugas seremonial, tetapi juga mampu menjadi teladan bagi teman-temannya di sekolah.
Menurutnya, status sebagai Paskibraka merupakan sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab.
Karena itu, mereka diminta menjauhi berbagai perilaku negatif, salah satunya bullying.
“Sebagai Paskibraka, pastikan punya kebanggaan dan menjadi contoh di sekolahnya. Jadilah contoh yang baik bagi teman-temannya,” kata Hanindhito.
Selain persoalan bullying, Hanindhito juga meminta para Paskibraka ikut menjadi bagian dalam upaya mencegah pernikahan anak.
Menurutnya, persoalan tersebut masih menjadi perhatian karena sebagian kasus melibatkan anak yang masih berstatus pelajar.
Ia menilai pencegahan pernikahan anak tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah, tetapi membutuhkan peran aktif orang tua.
“Saya berusaha untuk menekan angka pernikahan ini. Saya sedih betul kalau dengar bertambah, bertambah, bertambah. Ada yang usianya masih sekolah. Ini harus dijaga dan enggak bisa hanya pemerintah kabupaten, tapi peran serta orang tua,” ujarnya.
Hanindhito juga mengingatkan agar para Paskibraka tetap memegang teguh ideologi Pancasila.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti setelah mereka menyelesaikan tugas pada 17 Agustus, tetapi terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko menjelaskan, proses seleksi Paskibraka telah dimulai sejak Maret.
Hampir 900 pelajar mengikuti proses pendaftaran sebelum disaring melalui berbagai tahapan.
Setelah seleksi administrasi, peserta mengikuti tes kesehatan, psikotes, hingga tahapan pemantauan dan penentuan akhir.
Dari proses tersebut akhirnya terpilih 77 anggota Paskibraka.
Dua anggota di antaranya kemudian dikirim untuk mengikuti pemusatan latihan Paskibraka tingkat Provinsi Jawa Timur.
Keduanya berasal dari SMK Negeri 1 Grogol dan SMA Negeri 2 Pare.
Yuli menambahkan, para Paskibraka masih menjalani pemantapan formasi hingga menjelang pelaksanaan upacara.
Tahun ini terdapat penyesuaian formasi karena pelaksanaan upacara mengikuti standar yang diterapkan di Istana.
Salah satunya posisi tiang bendera yang ditempatkan di tengah lapangan.
Formasi barisan juga dipersiapkan membentuk angka 81 sebagai simbol HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
“Masih ada latihan untuk pemantapan formasi. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun kemarin karena kita sudah memakai standar istana,” terang Yuli.
Selain bertugas sebagai Paskibraka, para anggota juga diproyeksikan menjadi Duta Pancasila.
Mereka nantinya akan dilibatkan dalam kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada pelajar SMP, SMA, SMK, maupun madrasah di wilayah Kabupaten Kediri.
“Ke depannya adik-adik ini tidak hanya selesai di tanggal 17. Masih ada tugas-tugas yang akan diemban, termasuk sebagai Duta Pancasila,” jelasnya.
Dari sisi pelatihan, Peltu Tri Yudha Suhutono mengatakan seluruh peserta secara umum mampu mengikuti rangkaian latihan.
Para peserta memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan jadwal latihan yang padat.
Menurutnya, latihan tidak hanya berfokus pada kemampuan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga membentuk mental serta kedisiplinan peserta.
Ia menyebut kondisi fisik menjadi salah satu tantangan selama latihan.
Beberapa peserta sempat mengalami keluhan, terutama pada bagian tulang, akibat harus beradaptasi dengan latihan fisik dan langkah tegap.
“Awal-awal biasanya kaget dengan jadwal yang ada. Kemudian ada yang sakit-sakit, tapi enggak begitu signifikan. Setelah itu bisa menyesuaikan dengan temannya,” ujarnya.
Tri Yudha menilai para Paskibraka merupakan generasi yang akan meneruskan estafet kepemimpinan.
Karena itu, kekuatan mental dan fisik menjadi bekal penting yang harus terus dijaga.
“Pesan saya tetap kuatkan mental, utamanya mental dan fisik. Karena Gen Z ini adalah calon-calon penerus bangsa,” katanya.
Di tengah rangkaian prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat, suasana berubah haru setelah para Paskibraka bertemu dengan orang tua masing-masing.
Setelah beberapa hari menjalani karantina dan latihan secara intensif, para anggota akhirnya kembali berhadapan dengan orang-orang yang selama ini memberikan dukungan dari rumah.
Pelukan orang tua kepada anak-anak mereka pun menjadi pemandangan yang menyentuh.
Sejumlah orang tua tak mampu menahan air mata ketika melihat putra-putrinya berdiri mengenakan seragam Paskibraka.
Salah satunya Indana Wiyati, orang tua Jihan Fatharani, anggota Paskibraka dari MAN 2 Kediri.
Ia mengaku sangat bangga sekaligus terharu melihat putrinya mendapat kesempatan menjalankan tugas tersebut.
“Pastinya saya sangat senang sekali, terharu tentunya. Anak saya bisa membawa nama harum negara ini,” ujar Indana.
Rasa haru itu semakin terasa karena selama mengikuti karantina, Indana harus menahan rindu untuk bertemu putrinya.
“Enggak bisa dibayangkan, Mas. Sangat senang sekali. Enggak terasa sampai nangis,” tuturnya.
Bagi Jihan sendiri, menjadi Paskibraka merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.
Meski harus menjalani latihan dalam kondisi panas dan melelahkan, ia justru menikmati proses tersebut karena bisa bertemu dan berproses bersama teman-temannya.
“Latihannya seru banget. Enggak kerasa, tiba-tiba sudah pengukuhan. Perasaan baru sadar ikut tes, tiba-tiba sudah jadi Paskibraka,” kata Jihan.
Selama berada di karantina, Jihan juga mendapat banyak pelajaran, mulai dari kedisiplinan hingga membangun jiwa korsa.
Kebersamaan selama 24 jam bersama rekan-rekannya membuat proses latihan terasa semakin berkesan.
Meski begitu, ada satu hal yang tetap dirasakan selama menjalani karantina: rindu kepada orang tua dan suasana rumah.
“Pastinya ada (rindu), tapi kita harus sedikit berjuang menahan,” ujarnya.
Kini, rasa rindu itu terbayar lunas.
Pelukan yang terjadi setelah prosesi pengukuhan menjadi penanda bahwa perjuangan panjang para Paskibraka dan dukungan orang tua telah membawa mereka sampai pada satu tahap penting sebelum menjalankan tugas pada 17 Agustus mendatang.




















Tinggalkan Balasan