Irzan menjelaskan, pakan menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha ayam petelur.

Selain pakan, peternak juga harus mengeluarkan biaya untuk obat-obatan, perawatan kandang, dan kebutuhan lainnya agar ayam tetap sehat serta produktif.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar hasil penjualan telur harus kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional peternakan.

Akibatnya, peternak hanya memperoleh keuntungan yang tipis dan harus lebih ketat mengatur perputaran modal.

Irzan berharap harga telur dapat kembali meningkat dan bertahan pada tingkat yang lebih stabil.

Menurutnya, peternak membutuhkan harga jual yang mampu menutup seluruh biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan yang layak.

“Harapannya harga bisa naik lagi dan stabil. Kalau terus di sekitar Rp22.000, sementara biaya produksi tinggi, keuntungan kami masih tipis,” katanya.

Para peternak berharap pemerintah turut memperhatikan kondisi harga telur di tingkat produsen.

Stabilnya permintaan dan penyerapan telur dinilai dapat membantu menjaga harga agar tidak kembali tertekan, sehingga peternak dapat mempertahankan populasi ayam dan keberlanjutan usahanya.