KEDIRI, Tandaglobal.news Harga telur ayam di tingkat peternak di Kabupaten Kediri masih bertahan di kisaran Rp22.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat peternak mengeluhkan keuntungan yang semakin tipis karena biaya produksi, terutama pakan ayam, masih cukup tinggi. Kondisi itu terjadi hingga Selasa (11/8/2026).

Keluhan tersebut disampaikan Irzan, peternak ayam petelur di Dusun Jomblang, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Ia mengatakan harga telur memang telah mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp20.200 per kilogram.

Namun, kenaikan tersebut belum diikuti pergerakan harga yang lebih tinggi.

Menurut Irzan, harga telur saat ini hanya naik sekitar Rp1.800 per kilogram dari harga sebelumnya.

Selisih tersebut belum memberikan perubahan besar terhadap pendapatan peternak karena biaya produksi masih terus meningkat.

Produksi telur juga tetap berlangsung setiap hari sehingga peternak harus menyediakan pakan dan memenuhi kebutuhan perawatan ayam secara rutin.

Peternak tidak dapat menghentikan produksi ketika harga telur belum sesuai dengan harapan karena ayam tetap menghasilkan telur setiap hari.

“Sekarang harga sekitar Rp22.000 per kilogram, sebelumnya sekitar Rp20.200. Memang ada kenaikan, tetapi sampai sekarang belum naik lagi secara berarti. Biaya pakan dan perawatan masih tinggi,” ujar Irzan.

Irzan menjelaskan, pakan menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha ayam petelur.

Selain pakan, peternak juga harus mengeluarkan biaya untuk obat-obatan, perawatan kandang, dan kebutuhan lainnya agar ayam tetap sehat serta produktif.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar hasil penjualan telur harus kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional peternakan.

Akibatnya, peternak hanya memperoleh keuntungan yang tipis dan harus lebih ketat mengatur perputaran modal.

Irzan berharap harga telur dapat kembali meningkat dan bertahan pada tingkat yang lebih stabil.

Menurutnya, peternak membutuhkan harga jual yang mampu menutup seluruh biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan yang layak.

“Harapannya harga bisa naik lagi dan stabil. Kalau terus di sekitar Rp22.000, sementara biaya produksi tinggi, keuntungan kami masih tipis,” katanya.

Para peternak berharap pemerintah turut memperhatikan kondisi harga telur di tingkat produsen.

Stabilnya permintaan dan penyerapan telur dinilai dapat membantu menjaga harga agar tidak kembali tertekan, sehingga peternak dapat mempertahankan populasi ayam dan keberlanjutan usahanya.