Kediri,Tandaglobal.news- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan belum sepenuhnya mampu mendongkrak harga telur ayam di tingkat peternak. Saat ini, harga telur masih berada di kisaran Rp 21.000–Rp 22.000 per kilogram, atau berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

Peternak ayam asal Desa Asmorobangun Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri, Irzan, mengatakan, rendahnya harga telur dipengaruhi oleh kondisi pasokan yang masih melimpah. Produksi telur dari peternak tetap berjalan, sementara penyerapan di pasar belum mampu mengimbangi jumlah produksi.

“Sekarang harga telur masih sekitar Rp 21 ribu sampai Rp 22 ribu per kilogram. Padahal HAP pemerintah Rp26.500. Peternak jelas cukup berat dengan kondisi seperti ini,” jelasnya, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, program MBG memang turut menyerap telur, tetapi dampaknya terhadap harga belum maksimal. Salah satu penyebabnya karena telur bukan satu-satunya sumber protein dalam menu MBG karena dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menggunakan ayam, ikan, dan daging sehingga kebutuhan telur tidak selalu sama setiap hari.

Selain itu, penyerapan telur melalui SPPG dinilai belum merata di seluruh wilayah. Belum semua dapur terhubung langsung dengan peternak rakyat setempat, sehingga sebagian produksi telur masih harus disalurkan melalui pasar umum.

Kondisi tersebut diperparah oleh dampak libur sekolah beberapa waktu lalu. Ketika aktivitas sejumlah dapur SPPG sempat berkurang, penyerapan telur ikut menurun. Akibatnya, stok yang sebelumnya tersedia di tingkat peternak mengalami penumpukan.

Ketika kegiatan kembali berjalan, stok telur yang melimpah masih harus diserap pasar secara bertahap. Sementara telur merupakan komoditas yang harus segera dipasarkan karena tidak dapat disimpan terlalu lama dalam kondisi biasa.

Di sisi lain, daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih. Harga telur yang turun belum otomatis membuat permintaan pasar meningkat tajam. Konsumen masih cenderung menyesuaikan belanja dengan kemampuan ekonomi masing-masing.

Tekanan harga juga terjadi ketika peternak harus memenuhi biaya produksi. Pakan menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam usaha peternakan, sementara harga jual telur saat ini justru berada jauh di bawah HAP.

Peternak akhirnya harus tetap menjual telur meskipun harga sedang rendah untuk menjaga perputaran modal. Hasil penjualan dibutuhkan untuk membeli pakan dan memenuhi kebutuhan operasional kandang.

“Telur tetap harus keluar setiap hari. Kami butuh uang untuk membeli pakan dan biaya operasional, sehingga meskipun harganya rendah tetap harus dijual,” ujar Irzan.

Dia mengungkapkan, salah satu langkah yang dapat membantu memperbaiki kondisi tersebut adalah memperkuat penyerapan telur produksi peternak rakyat melalui program MBG. Penyerapan secara langsung dinilai dapat memberikan kepastian pasar sekaligus mengurangi tekanan akibat pasokan yang berlebih.

Ia berharap pelaksanaan MBG ke depan dapat memberikan dampak lebih besar terhadap peternak lokal. Dengan penyerapan yang lebih optimal, harga telur diharapkan dapat kembali mendekati HAP dan memberikan ruang bagi peternak untuk mempertahankan usahanya.

“Harapannya penyerapan telur dari peternak bisa lebih banyak dan harga bisa kembali membaik. Kalau harga terus di bawah HAP, peternak akan semakin berat mempertahankan usaha,” pungkasnya.

Reporter: Maulana Rahmadha
Editor: Rizky Rusdiyanto