Dari sisi kualitas, Farid menilai selada hidroponik memiliki tampilan yang lebih menarik dan tekstur lebih renyah dibandingkan selada yang dibudidayakan secara konvensional.

Selada hidroponik juga dinilai memiliki daya simpan lebih lama setelah dipanen.

“Kalau tanamannya tidak stres, seladanya lebih renyah dan tidak pahit. Setelah dipanen juga bisa lebih tahan lama,” katanya.

Kondisi musim kemarau yang mendukung pertumbuhan tanaman turut menjadi peluang bagi Farid untuk meningkatkan produksinya.

Terlebih, permintaan selada kembali membaik setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan tambahan serapan pasar bagi hasil budidayanya.

Farid sendiri telah menekuni budidaya hidroponik sejak sekitar tujuh tahun lalu. Usahanya sempat terhenti cukup lama ketika pandemi COVID-19 karena pemasaran mengalami kendala.

Kini, ia kembali mengembangkan usahanya seiring membaiknya pasar.

Untuk meningkatkan kapasitas produksi, Farid saat ini menambah instalasi hidroponik dari empat meja menjadi delapan meja.

Pengembangan tersebut dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan produksi.

Farid berharap kondisi cuaca yang mendukung selama musim kemarau dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil panen.

Ia juga berharap harga dan serapan pasar tetap stabil sehingga usaha hidroponiknya dapat terus berkembang serta membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.