Meski demikian, menurutnya, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar kopi Kediri mampu menembus pasar ekspor secara lebih luas.

Salah satunya adalah peningkatan kualitas melalui proses sortasi yang seragam.

“Sebenarnya kopi kami punya kualitas yang bagus. Bahkan pernah dinikmati sampai tamu dari Kedutaan Besar Jerman. Tetapi untuk memenuhi standar ekspor dalam jumlah besar masih terkendala proses sortasi karena kami belum memiliki peralatan yang memadai,” jelasnya.

Saat ini, sebagian besar hasil panen petani masih dipasarkan kepada pengepul maupun sejumlah kedai kopi.

Namun, sebagian kopi premium telah dipasarkan dalam bentuk roasted bean dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi.

“Harga kopi asalan sekarang sekitar Rp65 ribu per kilogram, sebelumnya sempat Rp85 ribu. Tetapi kalau kopi premium dengan kualitas rasa terbaik, harganya bisa mencapai Rp500 ribu bahkan pernah tembus Rp1 juta per kilogram,” ungkap Rujianto.

Selain pengembangan hilirisasi, kelompok tani juga mulai melihat peluang mengembangkan wisata kopi.

Menurut Rujianto, kawasan budidaya Excelsa yang berada di lokasi lebih mudah dijangkau berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata petik kopi, meski masih memerlukan penataan akses dan infrastruktur pendukung.

Ia berharap bantuan alat pascapanen dari Pemerintah Kabupaten Kediri menjadi awal penguatan industri kopi lokal, sehingga petani tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi.

“Dengan alat yang lebih modern, kami ingin kualitas kopi Medowo semakin dikenal. Harapannya ke depan petani bisa lebih sejahtera karena nilai jual kopi terus meningkat,” pungkasnya.