KEDIRI, Tandaglobal.news — Bantuan alat pascapanen kopi dari Pemerintah Kabupaten Kediri menjadi angin segar bagi petani kopi di lereng Gunung Wilis. Kehadiran peralatan modern tersebut diyakini mampu mempercepat proses pengolahan, meningkatkan kualitas produk, sekaligus memperkuat daya saing kopi lokal agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Salah satu penerima bantuan, Rujianto, anggota Kelompok Tani Makmur Sejahtera, Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, mengaku bantuan tersebut akan membawa perubahan besar dalam proses pengolahan hasil panen kopi yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.

“Alhamdulillah senang sekali. Kalau roasting masih manual memakai tungku, mengolah sekitar 20 kilogram bisa semalaman. Dengan alat ini, sekitar enam jam sudah selesai sehingga pekerjaan jauh lebih cepat,” ujarnya.

Menurut Rujianto, percepatan proses pengolahan menjadi keuntungan tersendiri karena petani dapat memenuhi permintaan pasar lebih cepat tanpa mengurangi kualitas hasil produksi.

Kelompok Tani Makmur Sejahtera mengelola kawasan kopi seluas sekitar 25 hektare yang digarap sekitar 25 anggota.

Di kawasan tersebut, petani membudidayakan tiga varietas kopi, yakni Robusta, Arabika, dan Excelsa.

Untuk kopi Robusta, produktivitas panen bergantung pada kondisi lahan dan cuaca.

Di wilayah dengan ketinggian yang sesuai, produksi dapat mencapai sekitar satu ton per tahun.

Sementara itu, Arabika dan Excelsa kini mulai berkembang sebagai komoditas unggulan baru di Medowo.

Selama ini, tantangan utama yang dihadapi petani bukan hanya proses pengolahan, tetapi juga faktor iklim.

Perubahan musim membuat produktivitas tanaman tidak selalu stabil setiap tahun.

“Kalau bibitnya kurang bagus dan cuacanya tidak mendukung, hasil panen juga ikut turun. Karena itu kami juga membutuhkan bibit yang berkualitas agar produksi tetap terjaga,” katanya.

Rujianto mengungkapkan, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri tidak hanya berupa alat pengolahan, tetapi juga bibit kopi yang digunakan kelompok tani untuk memperkuat pembibitan secara mandiri.

Meski demikian, menurutnya, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar kopi Kediri mampu menembus pasar ekspor secara lebih luas.

Salah satunya adalah peningkatan kualitas melalui proses sortasi yang seragam.

“Sebenarnya kopi kami punya kualitas yang bagus. Bahkan pernah dinikmati sampai tamu dari Kedutaan Besar Jerman. Tetapi untuk memenuhi standar ekspor dalam jumlah besar masih terkendala proses sortasi karena kami belum memiliki peralatan yang memadai,” jelasnya.

Saat ini, sebagian besar hasil panen petani masih dipasarkan kepada pengepul maupun sejumlah kedai kopi.

Namun, sebagian kopi premium telah dipasarkan dalam bentuk roasted bean dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi.

“Harga kopi asalan sekarang sekitar Rp65 ribu per kilogram, sebelumnya sempat Rp85 ribu. Tetapi kalau kopi premium dengan kualitas rasa terbaik, harganya bisa mencapai Rp500 ribu bahkan pernah tembus Rp1 juta per kilogram,” ungkap Rujianto.

Selain pengembangan hilirisasi, kelompok tani juga mulai melihat peluang mengembangkan wisata kopi.

Menurut Rujianto, kawasan budidaya Excelsa yang berada di lokasi lebih mudah dijangkau berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata petik kopi, meski masih memerlukan penataan akses dan infrastruktur pendukung.

Ia berharap bantuan alat pascapanen dari Pemerintah Kabupaten Kediri menjadi awal penguatan industri kopi lokal, sehingga petani tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi.

“Dengan alat yang lebih modern, kami ingin kualitas kopi Medowo semakin dikenal. Harapannya ke depan petani bisa lebih sejahtera karena nilai jual kopi terus meningkat,” pungkasnya.