Kediri, Tandaglobal.news — Tradisi slametan sebelum memulai pembangunan rumah masih terus dilestarikan masyarakat di Dusun Sumbersuko, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu. Seperti yang dilakukan Wahyudi, calon penghuni rumah, yang menggelar doa bersama dan prosesi adat sebagai bentuk permohonan keselamatan sebelum pembangunan dimulai, Senin (3/8/2026).

Dalam prosesi tersebut hadir keluarga, tetangga, serta para tukang yang akan mengerjakan pembangunan rumah.

Pelaksanaannya juga dilengkapi dengan cok bakal dan jenang sengkolo, dua perlengkapan tradisi yang memiliki makna simbolis dalam budaya Jawa.

Wahyudi mengatakan slametan digelar sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar proses pembangunan rumah dapat berjalan lancar tanpa hambatan hingga selesai.

“Kami berharap proses pembangunan diberikan kelancaran, para pekerja selalu diberi keselamatan, dan rumah yang nantinya ditempati membawa keberkahan bagi keluarga,” ujarnya.

Selain menjadi bentuk doa, kegiatan tersebut juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antara keluarga, warga sekitar, dan para pekerja bangunan melalui makan bersama setelah prosesi selesai.

Prosesi doa dipimpin Suwardi yang dipercaya masyarakat setempat untuk memimpin ujup-ujup atau doa tradisi sebelum pembangunan dimulai.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan untuk menyembah selain Tuhan, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta serta bentuk permohonan keselamatan.

Ia menjelaskan, cok bakal melambangkan awal kehidupan dan harapan agar rumah yang dibangun menjadi tempat tinggal yang membawa kebaikan.

Sementara jenang sengkolo dimaknai sebagai simbol doa agar dijauhkan dari segala bentuk marabahaya maupun kesialan selama proses pembangunan.

“Melalui ujup-ujup ini kita memohon kepada Allah SWT agar seluruh proses pembangunan diberi kemudahan, keselamatan, dan penghuni rumah kelak mendapatkan ketenteraman serta rezeki yang baik,” kata Suwardi.

Setelah doa bersama selesai, seluruh tamu dan pekerja menikmati hidangan yang telah disiapkan sebagai bentuk sedekah sekaligus mempererat kebersamaan.

Tradisi slametan sebelum mendirikan rumah hingga kini masih menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.