“Warga sini tahu sejarah kereta ini dan selalu menjaganya. Rasanya kecil kemungkinan pelakunya berasal dari warga sekitar,” katanya.
Darmawan menambahkan, pemerintah desa akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terkait langkah restorasi agar kondisi kereta dapat dikembalikan seperti semula tanpa menghilangkan nilai sejarah yang dimilikinya.
Sementara itu, Kasun Kandat Samuji menjelaskan, kereta tersebut lebih dikenal masyarakat sebagai Titian Mbah Glinding.
Berdasarkan cerita turun-temurun, titian itu merupakan kendaraan yang digunakan oleh Bupati pertama Kediri pada masa pemerintahan yang masih berkaitan dengan era Pangeran Diponegoro.
Menurutnya, kendaraan tersebut dahulu ditarik menggunakan kerbau putih dan dimanfaatkan sebagai sarana transportasi.
Awalnya kereta berada di lokasi lain sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi saat ini dan tetap dipertahankan sebagai salah satu peninggalan sejarah desa.
“Ini peninggalan yang sangat berharga bagi Desa Kandat. Dulu sempat akan diminta untuk dipindahkan ke cagar budaya, tetapi dipertahankan agar tetap berada di desa ini,” jelas Samuji.
Ia mengatakan, aksi vandalisme seperti ini baru pertama kali terjadi.
Karena itu, pemerintah desa berharap pelaku segera terungkap agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.
Selain memiliki nilai sejarah, situs Titian Mbah Glinding juga kerap didatangi peziarah dari berbagai daerah.
Warga mengaku sesekali menemukan pengunjung yang datang membawa dupa maupun sesaji sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang diyakini berkaitan dengan sejarah berdirinya Desa Kandat.
Hingga berita ini ditulis, polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku vandalisme sekaligus mengumpulkan barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian.




















Tinggalkan Balasan