Tandaglobal.news | JOMBANG — Berdirinya Pabrik Gula (PG) Seloredjo di Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, pada 1882 menjadi bagian penting dari ekspansi industri gula kolonial Belanda yang dibangun di atas pengorbanan masyarakat setempat.

Pabrik Gula Seloredjo dibangun oleh Cultuur Maatschappij Seloredjo milik E. Tack dan D.J. Jut melalui proyek yang dimulai sekitar 1879 hingga 1880.

Pada masa itu, industri gula merupakan salah satu sektor andalan pemerintah kolonial untuk meningkatkan pendapatan dari wilayah Hindia Belanda.

Bagi pemerintah kolonial, pembangunan pabrik tersebut dipandang sebagai investasi strategis untuk memperkuat produksi gula di Pulau Jawa.

Sebaliknya, bagi warga Desa Selorejo, proyek itu menjadi awal dari penderitaan yang berlangsung selama proses pembangunan.

Lahan pertanian milik masyarakat diambil untuk dijadikan kawasan pabrik melalui kebijakan pemerintah kolonial.

Proses pengambilalihan tanah melibatkan pejabat daerah mulai dari bupati, wedana, hingga kepala desa.

Warga yang menolak melepaskan lahannya mendapat tekanan sehingga tidak memiliki banyak pilihan selain menyerahkan tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.

Setelah kehilangan lahan, masyarakat juga diwajibkan mengikuti kerja paksa untuk mendukung pembangunan pabrik.

Setiap keluarga harus mengirimkan seorang anggota keluarga untuk bekerja sejak pagi hingga sore hari.

Upah yang diterima para pekerja sangat rendah dibandingkan dengan beban pekerjaan yang harus mereka jalani.

Di saat yang sama, sawah milik mereka sendiri terbengkalai karena tidak lagi memiliki waktu untuk diolah.

Pembangunan pabrik diawasi langsung oleh tenaga teknis asal Belanda yang terdiri atas insinyur bangunan, insinyur sipil, dan insinyur mesin.

Para pekerja pribumi harus mengangkut mesin-mesin berukuran besar yang didatangkan dari Eropa melewati jalan tanah dan kawasan persawahan.

Pekerjaan berat tersebut membuat berbagai kecelakaan tidak dapat dihindari selama proses pembangunan berlangsung.

Sejumlah pekerja mengalami luka serius bahkan kehilangan nyawa ketika memindahkan mesin maupun membangun fasilitas pabrik.

Keluarga yang ditinggalkan harus menghadapi kesulitan ekonomi setelah kehilangan anggota keluarga yang menjadi pencari nafkah.

Kondisi tersebut turut memicu krisis pangan di kalangan masyarakat sekitar.

Banyak warga tidak lagi sempat menggarap sawah sehingga hasil panen mengalami penurunan.

Kesulitan hidup semakin dirasakan oleh keluarga yang telah kehilangan lahan maupun pencari nafkah utama.

Menjelang selesainya pembangunan, jaringan rel lori dipasang untuk menghubungkan pabrik dengan jalur Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJSM).

Jalur tersebut memudahkan distribusi gula ke berbagai daerah sekaligus memperkuat jaringan industri gula kolonial di Jawa.

Meski demikian, pembangunan infrastruktur itu tidak membawa perubahan berarti bagi kehidupan masyarakat yang telah menanggung berbagai pengorbanan.

Saat Pabrik Gula Seloredjo mulai beroperasi pada 1882, pemerintah kolonial menganggapnya sebagai sebuah keberhasilan besar dalam pengembangan industri gula.

Bagi masyarakat Selorejo, pabrik itu justru menjadi pengingat atas hilangnya tanah, beratnya kerja paksa, serta penderitaan yang mengiringi proses pembangunannya.

Hingga kini, Pabrik Gula Seloredjo dikenang bukan hanya sebagai bangunan industri bersejarah, tetapi juga sebagai saksi bisu perjalanan panjang masyarakat desa pada masa kolonial.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.