Tandaglobal.news | Jakarta — Industri gula Indonesia menghadapi tantangan baru untuk meningkatkan kualitas produksi melalui teknologi yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Sebagian besar pabrik gula di Indonesia saat ini masih menggunakan proses sulfitasi dalam pemurnian nira tebu.

Proses tersebut memanfaatkan gas belerang atau sulfur dioksida (SO₂) untuk membantu menghasilkan gula putih.

Metode sulfitasi telah digunakan selama puluhan tahun karena dinilai murah dan relatif sederhana untuk diterapkan.

Namun, penggunaan sulfur dalam proses produksi mulai menjadi perhatian karena berkaitan dengan standar kesehatan dan kualitas pangan.

Sisa kandungan SO₂ dalam gula menjadi salah satu isu yang diperhatikan karena pada sebagian orang dapat memicu iritasi, alergi, atau gangguan pernapasan.

Selain itu, pembakaran belerang dalam proses produksi juga berpotensi menghasilkan emisi yang memengaruhi kualitas udara di sekitar kawasan pabrik.

Sejumlah negara seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan telah menerapkan batas kadar SO₂ dalam gula yang lebih ketat, yaitu sekitar 10 hingga 15 ppm.

Sementara itu, gula yang dihasilkan melalui proses sulfitasi tradisional masih dapat memiliki kadar SO₂ sekitar 20 hingga 30 ppm.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi gula Indonesia untuk bersaing di pasar ekspor yang semakin memperhatikan standar kesehatan dan lingkungan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sejumlah pabrik mulai mengembangkan teknologi transisi guna mengurangi kandungan sulfur dalam produk akhir.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah double sulphitation atau sulfitasi ganda yang dilakukan melalui dua tahap pemurnian untuk menekan sisa SO₂.

Selain itu, sistem aerasi atau degassing juga mulai diterapkan untuk membantu mengeluarkan kandungan gas dari nira.

Beberapa industri juga mengembangkan proses hybrid seperti sulpho-phosphatation yang mengombinasikan beberapa metode pemurnian.

Namun, teknologi tersebut masih menggunakan sulfur sehingga dianggap sebagai tahap awal menuju proses produksi yang lebih bersih.

Perkembangan industri gula dunia kini mulai mengarah pada teknologi tanpa sulfur.

Dua metode yang banyak dikembangkan adalah phosphatasi dan Defekasi Remelted Carbonatation atau DRK.

Proses phosphatasi menggunakan asam fosfat (H₃PO₄) dan kapur sebagai bahan pemurnian tanpa melibatkan belerang.

Teknologi tersebut mampu menghasilkan gula putih dengan kualitas tinggi yang sesuai dengan standar pasar ekspor.

Sementara itu, teknologi DRK memanfaatkan kapur dan gas karbon dioksida (CO₂) dari gas buang pabrik untuk membantu proses pemurnian gula.

Selain menghasilkan gula berkualitas tinggi, metode tersebut juga berpotensi mengurangi emisi karbon karena memanfaatkan kembali gas buang industri.

Thailand menjadi salah satu negara yang telah banyak menerapkan teknologi tanpa sulfur dalam industri gulanya.

Perkembangan tersebut mulai diikuti oleh sejumlah pabrik gula baru di Indonesia yang berupaya meningkatkan kualitas produksi.

Transformasi industri gula Indonesia ke depan diperkirakan akan bergerak dari proses berbasis sulfur menuju produksi gula putih bebas SO₂.

Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Gula masa depan tidak hanya dinilai dari rasa manisnya, tetapi juga dari proses produksi yang lebih bersih, aman, dan bertanggung jawab.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.