Tandaglobal.news | Karanganyar — Pabrik Gula Tasikmadu menjadi salah satu warisan penting Mangkunegara IV yang dibangun pada abad ke-19 sebagai upaya menghadirkan industri gula yang memberi manfaat bagi rakyat.
Pada tahun 1871, wilayah Surakarta terbagi menjadi dua kawasan, yakni utara yang berada di bawah Hindia Belanda dan selatan yang menjadi wilayah Kadipaten Mangkunegaran.
Dari Loji Wetan, pemerintah kolonial mengeluarkan perintah agar setiap desa menanam tebu dan mengirim hasilnya ke pabrik gula Belanda.
Kebijakan tersebut membuat rakyat kecil berada dalam tekanan karena pelanggaran terhadap aturan itu dikenai denda berat.
Di pendapa kadipaten, Mangkunegara IV yang saat itu berusia 57 tahun membaca perintah Cultuurstelsel yang membuatnya gelisah.
Ia kemudian memanggil abdinya dan berkata, “Dik, Sastro. Besok kita berangkat ke Tasikmadu.”
Keesokan harinya, dua kereta kuda membawa Mangkunegara IV menuju wilayah Tasikmadu untuk melihat langsung kondisi tanah yang akan dikembangkan.
Sesampainya di sawah Tasikmadu, Mangkunegara IV turun dari kereta dan menapaki pematang sambil mengamati kondisi tanah.
Kepada patihnya, R.M. Joyodipuro, ia menyampaikan gagasan untuk membangun pabrik gula di wilayah tersebut.
“Ini tanah kita,” katanya pada patihnya, R.M. Joyodipuro.
“Kalau kita bangun pabrik di sini, rakyat tak perlu lagi mengirim tebu ke pabrik Belanda.”
“Mereka menanam, mereka menggiling, dan mereka menikmati hasilnya.”
Joyodipuro sempat meragukan rencana tersebut karena pembangunan pabrik membutuhkan modal besar dan mesin yang mahal.
Mangkunegara IV kemudian menjelaskan bahwa modal dapat diperoleh dari saudagar Tionghoa di Semarang.
“Kita pinjam dari saudagar Tionghoa Semarang.”
“Kita bayar dengan gula dari bumi kita sendiri.”
Dua tahun kemudian, pada 1873, Pabrik Gula Tasikmadu mulai beroperasi dengan mesin uap bekas dari Inggris yang berhasil didatangkan melalui perjuangan panjang.
Pada hari peresmian, Mangkunegara IV hadir mengenakan beskap sederhana di hadapan ratusan buruh pabrik.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pesan yang kemudian menjadi bagian dari nilai moral Pabrik Gula Tasikmadu.
“Pabrik iki openono.”
“Sanajan ora nyugihi, nanging nguripi.”
(Pabrik ini rawatlah. Meskipun tidak membuat kaya, namun menghidupi).
Setelah turun dari panggung, Mangkunegara IV ikut mengangkat ikat tebu pertama ke dalam gilingan bersama para pekerja.
Mbah Kamto, tukang tebang pertama, selalu mengenang momen ketika Mangkunegara IV mengangkat tebu bersamanya.
Mangkunegara IV disebut berkata, “Iki tebu kita bareng.”
Keuntungan pertama Pabrik Gula Tasikmadu pada 1874 memang belum besar dan membuat pemerintah kolonial merasa tidak puas.
Namun, Mangkunegara IV tetap menggunakan hasil tersebut untuk membangun berbagai fasilitas bagi masyarakat.
Ia membangun irigasi di Ngadirejo, sekolah desa di Ngijo pada 1878, serta klinik sederhana dekat pabrik pada 1880.
Setiap musim giling selesai, Mangkunegara IV kembali ke Tasikmadu untuk bertemu masyarakat.
Ia duduk lesehan di bawah pohon asam sambil membagikan gula cetak dan menanyakan keadaan warga.
“Laramu wis mari? Anakmu wis bisa maca?”
Menjelang wafatnya pada 1881, Mangkunegara IV menyampaikan pesan kepada putra mahkota tentang pentingnya Tasikmadu bagi Mangkunegaran.
“Tasikmadu kuwi atiné Mangkunegaran.”
Kini Pabrik Gula Tasikmadu tidak lagi beroperasi seperti masa kejayaannya.
Cerobong pabrik telah senyap dan sebagian mesin produksinya telah berpindah.
Namun, nilai yang ditinggalkan Mangkunegara IV tentang keberanian membangun kemandirian dan kepemimpinan yang memperhatikan rakyat tetap dikenang.
Tasikmadu mungkin tidak lagi ramai seperti dahulu, tetapi warisannya tetap hadir sebagai simbol “Pabrik Jiwa Rakyat”.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan