Kantor Kepala Desa Asmorobangun. (Foto: Dok.TGN/Roni Ardiansyah)

Tandaglobal.news | KEDIRI – Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, terus berkembang sebagai salah satu desa agraris unggulan yang berada di kawasan lereng Gunung Kelud. Dengan luas wilayah sekitar 1.513,29 hektare dan jumlah penduduk berkisar antara 8.700 hingga 9.800 jiwa, desa ini memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, serta hortikultura yang menjadi penopang utama perekonomian masyarakat.

Kepala Desa Asmorobangun, Sunardi, menjelaskan bahwa secara geografis desanya berada di wilayah timur laut Kecamatan Puncu dan berbatasan langsung dengan kawasan timur Kecamatan Pare. Kondisi tanah yang subur akibat aktivitas vulkanik Gunung Kelud menjadikan sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian.

Desa Asmorobangun terdiri atas enam dusun, yaitu Dusun Jomblang, Dusun Dampit, Dusun Sidorejo, Dusun Sumbersuko, Dusun Prapatan, dan Dusun Parangagung. Keenam dusun tersebut memiliki sejarah tersendiri sebelum akhirnya bergabung menjadi satu wilayah administratif.

Menurut Sunardi, tiga dusun, yakni Jomblang, Dampit, dan Sidorejo, sebelumnya masuk dalam wilayah Kecamatan Kepung. Sementara itu, Dusun Sumbersuko, Prapatan, dan Parangagung merupakan bagian dari Desa Manggis. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan pembangunan, pemerintah daerah melakukan pemekaran wilayah sekitar tahun 1970 yang kemudian melahirkan Desa Asmorobangun sebagai bagian dari administrasi Kecamatan Puncu.

“Desa Asmorobangun terbentuk dari penggabungan enam dusun yang sebelumnya berada dalam dua wilayah berbeda. Penggabungan ini dilakukan sekitar tahun 1970 agar pelayanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat dapat berjalan lebih optimal,” ujar Sunardi, Sabtu (27/6/2026).

Selain memiliki sejarah terbentuknya wilayah, nama Asmorobangun juga menyimpan nilai historis dan filosofi yang masih dikenal masyarakat hingga saat ini. Berdasarkan cerita yang berkembang, nama tersebut dikaitkan dengan tokoh legendaris Kerajaan Kediri, yakni Raden Panji Asmorobangun atau Inu Kertapati, yang kisahnya telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Di sisi lain, terdapat pula versi yang menyebutkan bahwa nama Asmorobangun diberikan oleh Ki Demang Sundari pada masa awal pembentukan desa. Secara filosofis, kata Asmoro dimaknai sebagai rasa senang atau kasih sayang, sedangkan Bangun berarti membangun. Makna tersebut menjadi harapan agar seluruh masyarakat terus bersatu membangun desa secara berkelanjutan.

Dalam bidang ekonomi, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Desa Asmorobangun. Berbagai komoditas hortikultura tumbuh subur di kawasan ini, mulai dari cabai rawit, tomat varietas unggul, beragam sayuran musiman, hingga nanas khas lereng Gunung Kelud. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan tanaman pangan seperti jagung, serta komoditas perkebunan berupa kopi robusta dan arabika yang memiliki prospek pasar cukup menjanjikan.

“Kesuburan tanah di lereng Kelud menjadi anugerah bagi masyarakat kami. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari pertanian, sehingga kami terus mendorong peningkatan kualitas budidaya agar hasil panen semakin baik dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Sunardi.

Tidak hanya unggul di sektor pertanian, Desa Asmorobangun juga didukung fasilitas pendidikan yang memadai. Terdapat empat sekolah dasar negeri, yaitu SDN Asmorobangun 1 di Dusun Jomblang, SDN Asmorobangun 2 di Dusun Dampit, SDN Asmorobangun 3 di Dusun Sumbersuko, dan SDN Asmorobangun 4 di Dusun Parangagung. Selain itu, terdapat SMAN 1 Puncu yang berada di Dusun Sidorejo. Kehidupan keagamaan masyarakat pun didukung dengan keberadaan masjid, musala, serta tempat ibadah lainnya yang tersebar di seluruh dusun.

Dengan potensi pertanian yang melimpah, sejarah yang kuat, serta dukungan sumber daya manusia yang terus berkembang, Desa Asmorobangun diharapkan mampu menjadi salah satu kawasan pertanian unggulan yang memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan perekonomian Kabupaten Kediri.


Jurnalis: Roni Ardiansyah