KEDIRI, TandaGlobalNews –Perkembangan usaha kerajinan kulit milik Katon Ragil Nurcahyo (39), warga Dusun Parerejo, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, tidak hanya terlihat dari jangkauan pemasarannya hingga luar Pulau Jawa. Proses produksi sepatu yang dikerjakan secara mandiri juga melibatkan warga sekitar sebagai tenaga kerja.

Salah satu karyawan, Yohan (23), warga Gedangsewu, mengatakan pembuatan sepatu kulit dilakukan melalui sejumlah tahapan. Proses tersebut dimulai dari membuat mal atau cetakan hingga sepatu siap digunakan.

“Pertama membuat mal dan cetakan, kemudian memilih bahan kulit. Setelah itu pola digambar atau dicetak pada kulit, lalu dipotong sesuai pola,” ujar Yohan, Kamis (1/10/2026).

Setelah proses pemotongan, bagian kulit tertentu kemudian ditipiskan. Tahap tersebut dilakukan agar bagian yang nantinya dilipat atau ditempel tidak terlalu tebal sehingga lebih mudah dibentuk dan menghasilkan produk yang lebih rapi.

Potongan kulit yang sudah disiapkan selanjutnya masuk tahap penjahitan. Setiap bagian dirangkai sesuai pola sebelum dilanjutkan dengan pemasangan lapisan dalam dan proses finishing.

Tahap berikutnya adalah pemasangan bagian atas atau upper dan alas sepatu atau outsole. Setelah seluruh bagian terpasang dan melalui tahap penyelesaian, sepatu siap dipasarkan kepada konsumen.

Menurut Yohan, kemampuan produksi setiap hari bergantung pada tingkat kesulitan model yang dibuat. Untuk model yang relatif sederhana, produksi dapat mencapai sekitar 10 pasang dalam sehari.

“Kalau modelnya gampang bisa sekitar 10 pasang sehari. Kalau modelnya lebih rumit seperti pantofel, biasanya sekitar lima sampai enam pasang,” jelasnya.

Selain memproduksi sepatu untuk stok toko, usaha tersebut juga menerima pesanan dengan model khusus sesuai permintaan pelanggan. Sistem tersebut membuat proses produksi harus menyesuaikan desain dan tingkat kesulitan setiap pesanan.

Yohan sendiri telah mengenal dan mengerjakan pembuatan sepatu sejak 2019, ketika dirinya masih bersekolah. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami berbagai tahapan produksi sepatu berbahan kulit.

“Mulai membuat sepatu sejak 2019, waktu itu masih sekolah,” ungkapnya.

Keterlibatan warga sekitar menjadi bagian penting dalam keberlangsungan usaha tersebut. Saat ini terdapat enam pekerja yang membantu proses produksi dan seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar atau masih dalam satu desa.

Keberadaan usaha mikro tersebut tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat. Para pekerja dapat memperoleh penghasilan sekaligus mengembangkan keterampilan dalam bidang kerajinan sepatu kulit.

Usaha yang telah berjalan sekitar 15 tahun tersebut sebelumnya dirintis dari rumah dan kini mampu memproduksi berbagai produk, mulai sepatu, sandal, tas hingga ikat pinggang. Produk juga telah dipasarkan secara langsung maupun melalui media sosial hingga menjangkau konsumen di luar Pulau Jawa.

Bagi Yohan, bekerja di usaha tersebut tidak hanya menjadi pekerjaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk terus mengembangkan keterampilan membuat produk berbahan kulit.

Reporter: Maulana Rahmadha
Editor: Rizky Rusdiyanto