KEDIRI, TandaGlobalNews – Berawal dari usaha rumahan, kerajinan berbahan kulit yang dirintis Katon Ragil Nurcahyo (39) warga Dusun Parerejo Desa Gedangsewu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri terus berkembang hingga menjangkau pasar luar Pulau Jawa.
Selama sekitar 15 tahun menjalankan usaha, Katon memproduksi berbagai kerajinan berbahan kulit, mulai dari sepatu, sandal, tas hingga ikat pinggang. Seluruh proses produksi dilakukan di tempat usahanya yang berada di lingkungan rumah.
Katon menceritakan, usaha tersebut berawal dari sang kakak yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah pabrik sepatu. Kondisi tersebut kemudian menjadi awal untuk mencoba memproduksi sepatu secara mandiri dari rumah.
“Awalnya kakak saya terkena PHK dari pabrik sepatu. Dari situ kemudian mencoba membuat sepatu sendiri di rumah dan akhirnya usaha ini terus berkembang,” kata Katon, Kamis (1/10/2026).
Menurut Katon, pilihan menggunakan bahan kulit juga tidak lepas dari peluang usaha. Saat itu, persaingan kerajinan berbahan kulit di wilayahnya masih relatif sedikit sehingga dinilai memiliki ruang untuk dikembangkan.
Bahan baku utama yang digunakan berupa kulit sapi. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, kulit didatangkan dari Magetan dan Surabaya. Sementara bahan untuk sol sepatu diperoleh dari Surabaya.
Setiap hari, proses produksi dilakukan secara rutin dengan kapasitas maksimal mencapai sekitar 30 pasang. Produk yang dihasilkan kemudian dipasarkan kepada konsumen lokal maupun dikirim berdasarkan pesanan ke berbagai daerah.
“Produk kami ada sepatu, sandal, tas dan ikat pinggang. Untuk sepatu dewasa harganya sekitar Rp150 ribu sampai Rp300 ribu per pasang, tergantung model dan bahannya,” jelasnya.
Pemasaran dilakukan melalui penjualan langsung di rumah produksi maupun secara daring. Katon memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok, untuk memperkenalkan produknya kepada calon pembeli.
Untuk pelanggan di wilayah Kediri dan sekitarnya, pembelian dapat dilakukan secara eceran. Sementara pesanan dari luar daerah, termasuk luar Pulau Jawa, umumnya dalam jumlah grosir.
Dalam satu kali pengiriman ke luar pulau, pesanan minimal sekitar 20 pasang sepatu. Pengiriman dilakukan menyesuaikan jumlah pesanan yang masuk, bisa satu hingga dua pekan sekali.
“Kalau penjualan di rumah setiap hari. Untuk pengiriman luar pulau tergantung pesanan, bisa satu minggu sekali atau dua minggu sekali,” ujarnya.
Produk kerajinan tersebut kini telah menjangkau konsumen di luar Pulau Jawa, di antaranya Sumatera dan Kalimantan. Perkembangan pasar tersebut menjadi salah satu capaian dari usaha yang awalnya hanya dikerjakan dari rumah.
Dari usaha tersebut, Katon menyebut omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp50 juta per bulan. Perkembangan usaha juga turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Saat ini, terdapat sekitar enam tenaga kerja yang membantu proses produksi. Seluruhnya merupakan warga di sekitar tempat usaha.
“Tenaga kerja dari warga sekitar. Sekarang ada enam orang yang membantu produksi,” ungkapnya.
Dalam perjalanan usahanya, Katon juga sempat menghadapi tantangan ketika pandemi COVID-19. Penjualan mengalami penurunan cukup drastis akibat kondisi ekonomi dan aktivitas masyarakat yang berubah. Namun, setelah kondisi kembali normal, penjualan berangsur pulih.
Katon kini memiliki sejumlah rencana untuk mengembangkan usahanya. Salah satunya membuka toko atau cabang di kawasan perkotaan yang lebih ramai agar produk lebih mudah dijangkau konsumen.
Selain memperluas pemasaran, ia juga ingin menambah variasi produk, termasuk membuat sepatu dengan ukuran dan model untuk anak-anak.
“Ke depan ingin punya toko di tempat yang lebih ramai supaya lebih dekat dengan konsumen. Produk juga ingin dikembangkan, termasuk menambah model dan ukuran untuk anak-anak,” pungkas Katon.
Reporter: Roni Ardiansyah
Editor: Rizky Rusdiyanto



















Tinggalkan Balasan