Tandaglobal.news | Kediri — Usaha Jenang Madura di Pasar Pahing, Jalan HOS Cokroaminoto No. 105, Jamsaren, Singonegaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, masih mempertahankan resep turun-temurun yang telah diwariskan sejak sekitar tahun 1960. Hingga kini, kuliner tradisional tersebut tetap dikelola oleh keluarga pendirinya.

Ifa, selaku generasi penerus, mulai mengelola usaha tersebut pada 2019 menggantikan sang ibu. Ia menceritakan, sebelum memiliki lapak tetap di Pasar Pahing, ibunya berjualan secara keliling dari desa ke desa dengan membawa dagangan menggunakan tampah yang disunggi di kepala.

“Saya mulai menggantikan ibu saya 2019,” ujar Ifa.

Sekitar tahun 1970-an, usaha tersebut mulai menetap di Pasar Pahing dan terus melayani pelanggan hingga sekarang.

Menurut Ifa, salah satu ciri khas Jenang Madura terletak pada kuah santan yang dibuat lebih kental. Selain itu, candil yang digunakan memiliki bentuk memanjang, berbeda dengan candil berbentuk bulat yang umum dijumpai pada bubur sejenis.

“Ciri khasnya ya santennya kental. Kalau yang banyak bubur lainnya kan cair. Terus candilnya ini kalau ibu saya panjang. Kalau lainnya kan bulet-bulet,” jelasnya.

Meski tetap mempertahankan resep warisan keluarga, proses memasaknya mengikuti perkembangan peralatan. Tungku kayu bakar yang dahulu digunakan kini telah diganti dengan kompor gas. Dalam sekali produksi, Ifa membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan enam kompor secara bersamaan.

Tidak hanya pada proses produksi, penyesuaian juga dilakukan dalam sistem pembayaran. Sejak sekitar enam bulan terakhir, pelanggan sudah dapat melakukan transaksi menggunakan QRIS, meski pembayaran tunai masih menjadi pilihan sebagian besar pembeli.

Ifa mengatakan penjualan Jenang Madura mengalami kondisi yang naik turun seperti usaha kuliner pada umumnya. Namun, ia bersyukur karena hingga kini masih banyak pelanggan yang datang kembali untuk membeli jenang buatannya.

Ia berharap usaha keluarga tersebut dapat terus berjalan dan semakin ramai. Menurutnya, selain menjaga kualitas produk, kebiasaan berbagi kepada sesama juga menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha.

“Ya pengennya sih rame terus. Ya tapi tetap kita harus banyak sedekah juga sih, itu kuncinya,” pungkas Ifa.


Jurnalis: Stefani Eka Shaputri