
(Dok. TGN/Fitri Rahayu)
Tandaglobal.news | Kediri — Bagi para pencinta kuliner yang berkunjung ke Kota Kediri, ada satu tempat sarapan unik yang wajib masuk dalam daftar kunjungan, yakni Warung Kopi Ketan Sorjem. Warung yang berada di bawah jembatan ini telah menjadi salah satu destinasi kuliner legendaris yang selalu dipadati pengunjung, terutama pada pagi hari.
Meski menu ketannya baru beberapa tahun terakhir viral di media sosial, warung Sorjem ternyata telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Bagijo, pemilik warung, mengatakan usaha keluarganya telah dirintis sejak era 1950-an.
“Kalau ketannya kan baru-baru ini viral, Mbak. Tapi kalau berdirinya warung ini sudah dari tahun 1500 (merujuk pada tahun 1950-an). Dulu sebelum ketan, jualan nasi pecel sama tahu goreng, tapi ketannya juga sudah ada,” ujar Pak Bagijo.
Nama Sorjem sendiri merupakan singkatan dari bahasa Jawa, yakni ngisor jembatan yang berarti di bawah jembatan. Nama tersebut merujuk langsung pada lokasi warung yang berada tepat di bawah jembatan dan telah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun.



Menurut Bagijo, popularitas Ketan Sorjem mulai meningkat setelah banyak komunitas sepeda menjadikan warung tersebut sebagai tempat singgah untuk sarapan seusai berolahraga. Momen kebersamaan mereka kemudian diunggah ke media sosial, khususnya Instagram, sehingga menarik perhatian masyarakat luas. Sejak saat itu, nama Ketan Sorjem semakin dikenal hingga luar daerah.
“Viralnya itu sudah 1 tahun lebih 15 bulan (sekitar 2 tahun). Padahal biasanya kuliner viral itu bertahan 3 bulan saja, tapi ini awet,” tambahnya.
Selain rasanya yang autentik, harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan mengapa warung ini tetap diminati berbagai kalangan dan mampu bertahan lintas generasi.
Menu andalan yang paling banyak diburu pelanggan adalah ketan bubuk dengan taburan kelapa parut yang disajikan bersama tahu goreng. Warung ini mulai melayani pembeli sejak pukul 05.30 WIB. Pada hari kerja, dagangan biasanya habis sekitar pukul 10.00 WIB.
Sementara saat akhir pekan, terutama Minggu, jumlah pengunjung meningkat signifikan. Banyak komunitas, pelajar, hingga pekerja memanfaatkan waktu libur untuk berkumpul atau kopi darat (kopdar) sambil menikmati sarapan.
Pada hari Minggu, Warung Sorjem mampu menghabiskan hingga 12 kilogram ketan. Seluruh dagangan bahkan kerap habis sebelum pukul 09.30 WIB.
Kelezatan Ketan Sorjem tidak hanya dikenal masyarakat Kediri. Banyak wisatawan dari luar kota sengaja datang untuk mencicipi kuliner legendaris tersebut, bahkan menjadikannya sebagai konten media sosial.
“Pelanggannya campur, Mbak. Ada orang Bandung, ada juga orang Banyuwangi yang bahkan sudah datang ke sini sampai 3-4 kali,” kata Pak Bagijo.
Untuk menjaga cita rasa agar tetap konsisten, Bagijo mengaku selalu mencicipi sendiri setiap masakan sebelum disajikan kepada pelanggan.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah ketika pembeli datang dalam jumlah besar secara bersamaan sehingga antrean menjadi sangat panjang.
Melihat antusiasme pelanggan yang terus meningkat, Bagijo berharap usahanya dapat berkembang dengan membuka tiga hingga empat cabang baru di masa mendatang. Salah satu lokasi yang menjadi incarannya adalah Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Namun, ia berkelakar bahwa nama warung tersebut nantinya tidak lagi menggunakan nama Sorjem.
“Tapi kalau di Pare namanya bukan Sorjem lagi, Mbak. Rencana saya mau dinamakan ‘Depan Kereta’ karena lokasinya di depan kereta,” ujarnya sambil tersenyum.
Jurnalis: Fitri Rahayu