
Tandaglobal.news | Kediri — Selama lebih dari 54 tahun beraktivitas di kawasan Jembatan Lama Kediri, Bagijo menyaksikan langsung berbagai perubahan yang terjadi di sekitar bangunan bersejarah tersebut. Bagi pemilik warung yang berada tepat di bawah jembatan itu, keberadaannya bukan hanya menjadi penghubung dua wilayah di Kota Kediri, tetapi juga bagian dari perjalanan panjang yang membentuk wajah kota dari masa ke masa.
Bagijo mengenang, pada masanya Jembatan Lama menjadi jalur utama yang memudahkan masyarakat menuju berbagai kawasan, terutama Pasar Bandar.
“Ya, transportasi singkat untuk ke Pasar Bandar. Kan jadi mudah, dekat,” ujarnya.
Ia menuturkan, sebelum jembatan dapat digunakan secara optimal atau ketika sempat menjalani perbaikan, warga harus menyeberangi Sungai Brantas menggunakan perahu tambang dengan membayar ongkos. Kehadiran Jembatan Lama kemudian menjadi solusi karena memberikan akses yang lebih cepat dan mempermudah mobilitas masyarakat.
Selama puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut, Bagijo juga menyaksikan perubahan lingkungan yang cukup signifikan. Menurutnya, penataan kawasan membuat suasana di sekitar jembatan menjadi lebih bersih, rapi, dan nyaman dibandingkan beberapa dekade lalu.
Ia mengungkapkan, area di sekitar jembatan dahulu pernah dipenuhi gelandangan, pemulung, hingga menjadi kawasan lokalisasi. Setelah dilakukan penataan, pembangunan taman, dan pemasangan pagar pembatas, kondisi lingkungan berubah menjadi lebih tertib.
Mengenai status Jembatan Lama sebagai bangunan cagar budaya, Bagijo menilai pandangan masyarakat masih beragam. Sebagian memahami nilai sejarah yang dimiliki jembatan tersebut, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai jembatan biasa.
“Ya sebagian juga memandang sejarah, sebagian mah biasa saja,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengaku masih sering menjumpai wisatawan, pelajar, hingga komunitas sejarah yang datang untuk mempelajari asal-usul Jembatan Lama, Sungai Brantas, dan perkembangan sejarah Kota Kediri. Bahkan, ia pernah menjadi narasumber bagi sejumlah pelajar SMA yang tengah mencari informasi mengenai sejarah kawasan tersebut.
Bagijo juga menceritakan salah satu keunikan yang, menurutnya, dimiliki Jembatan Lama. Ia menyebut terdapat roda pada bagian struktur jembatan yang berfungsi mengikuti perubahan kondisi konstruksi. Pada masa kepemimpinan wali kota sebelum Maschut, bagian tersebut rutin diberi pelumas atau stempet setiap tahun agar tetap berfungsi dengan baik.
Selain itu, ia menyayangkan penggantian lantai jembatan yang semula menggunakan kayu jati Belanda menjadi kayu kamper yang dicat hitam. Menurutnya, material lama memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih tahan lama.
Di akhir wawancara, Bagijo berharap masyarakat tetap dilibatkan dalam upaya menjaga kelestarian Jembatan Lama Kediri. Menurutnya, para pedagang yang beraktivitas di sekitar kawasan tidak harus digusur, melainkan diberikan pemahaman agar dapat bersama-sama merawat bangunan bersejarah tersebut.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan keselamatan di sekitar jembatan untuk mengantisipasi berbagai potensi bahaya, termasuk risiko kebakaran. Baginya, Jembatan Lama Kediri bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga warisan sejarah yang menjadi bagian dari identitas Kota Kediri dan patut dijaga bersama.

Jurnalis: Stefani Eka Shaputri




















Tinggalkan Balasan