KEDIRI, Tandaglobal.news — Kekeringan berkepanjangan di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan air bersih warga. Pasokan air yang biasanya mengalir dari kawasan pegunungan dilaporkan terhenti selama hampir dua bulan. Akibatnya, masyarakat harus mengandalkan bantuan air bersih dan membeli air dari wilayah lain.

Tumirah (51), warga Desa Kebonrejo, mengatakan kondisi tersebut membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak hingga mandi.

Warga yang memiliki akses air dari sumber lain masih bisa menggunakannya, sedangkan mereka yang tidak memiliki akses harus mencari alternatif.

“Kalau yang punya PDAM bisa menggunakan air PDAM. Kalau tidak punya, ya harus membeli,” ujar Tumirah, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, kondisi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Meski debit air pernah berkurang saat musim kemarau, pasokan dari kawasan Gunung Kelud biasanya masih mengalir meskipun sedikit.

Namun, kali ini air disebut tidak mengalir selama sekitar dua bulan.

Akibatnya, warga harus mengatur penggunaan air dengan lebih ketat. Sebagian meminta air kepada tetangga yang masih memiliki persediaan, sedangkan lainnya membeli air dari wilayah Mulyorejo.

Tumirah menyebut harga air di tempat pembelian sekitar Rp5.000 per jeriken. Meski demikian, warga masih harus memperhitungkan biaya tambahan untuk mengangkut air hingga ke rumah masing-masing.

Bantuan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan sejumlah pihak lain turut membantu memenuhi kebutuhan warga.

Air didistribusikan ke lingkungan permukiman, termasuk melalui tempat penampungan yang dapat dimanfaatkan warga secara bergiliran.

“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan, kebutuhan untuk memasak dan mandi masih bisa tercukupi,” kata Tumirah.