Meski demikian, distribusi air belum selalu datang pada waktu yang sama setiap hari. Warga terkadang harus menunggu hingga siang atau sore untuk mendapatkan pasokan.

Saat air datang, mereka membawa wadah masing-masing untuk mengambil dan menyimpan air sebagai cadangan.

Dwi Purwanto, warga Kebonrejo lainnya, juga menyampaikan persoalan kekurangan air yang dirasakan masyarakat selama kemarau panjang.

Kondisi pasokan yang menurun membuat warga harus menyiasati pemenuhan kebutuhan rumah tangga, terutama ketika sumber air yang biasa digunakan tidak lagi mengalir dengan lancar.

Bagi warga, bantuan tangki air menjadi penopang penting selama sumber air belum kembali normal. Namun, mereka berharap penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan distribusi bantuan setiap kali musim kemarau tiba.

Tumirah berharap pemerintah dapat mencari solusi agar warga tidak terus menghadapi kesulitan serupa saat kemarau panjang.

Menurutnya, pasokan air yang stabil sangat dibutuhkan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

“Harapannya, ke depan tidak mengalami kekeringan seperti ini lagi. Semoga ada solusi supaya air tetap tersedia,” ungkapnya.

Kekeringan di Kebonrejo menunjukkan pentingnya ketersediaan sumber air bersih yang dapat diandalkan selama musim kemarau.

Bagi warga, bantuan yang datang sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kepastian pasokan air dalam jangka panjang tetap menjadi harapan utama masyarakat.